Ini merupakan ekspansi yang signifikan dalam total anggaran yang menyusut 16% dari tahun lalu.
Industri batu bara menjadi bahan kimia telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, sebagian karena lobi pertambangan yang kuat—sadar akan tantangan dari energi terbarukan dalam pembangkit listrik—ingin mengembangkan sumber permintaan lain untuk produk mereka.
Penggunaan batu bara di industri kimia sebagai substitusi minyak makin menonjol pada saat pasar untuk bahan baku saingan seperti nafta (berasal dari minyak) dan LPG (dari minyak atau gas alam) makin ketat.
Shenhua mengatakan pekan lalu bahwa laba bersih turun 5,3% pada 2025. Perusahaan memperkirakan tekanan penurunan harga pada bisnis pembangkit listriknya tahun ini.
Salah satu solusinya adalah mengurangi produksi batu bara sebesar 0,6%, mengingat harga rata-rata pada 2025 sekitar 12% lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Solusi kedua adalah melanjutkan perluasan pabriknya yang memproduksi polietilen dan polipropilen—dua jenis plastik yang paling umum—yang diharapkan akan menggandakan kapasitas tahunannya pada 2027 menjadi 1,4 juta ton.
“Kenaikan harga minyak dapat melemahkan ketersediaan pasokan petrokimia, dan meningkatkan permintaan serta daya saing untuk konversi batubara menjadi olefin,” kata CEO Zhang Changyan selama siaran web pendapatan perusahaan pekan lalu.
Pembelian Aset
Raksasa batu bara ini juga telah setuju untuk membeli aset senilai US$19 miliar dari perusahaan induknya, termasuk operasi konversi batu bara menjadi bahan kimia.
Langkah ini bertujuan untuk mengatasi tekanan dari percepatan transisi hijau China, serta risiko geopolitik terhadap ekonomi global, kata Zhang.
Keunggulan margin batu bara dibandingkan dengan minyak dalam produksi bahan kimia kini berada pada titik terlebarnya sejak 2015, kata China International Capital Corp. dalam sebuah catatan, sementara batu bara saat ini menyumbang sekitar seperlima dari produksi olefin China, menurut data yang disajikan oleh Ningxia Baofeng Energy Group Co. dalam laporan pendapatan terbarunya.
Produsen konversi batu bara menjadi olefin terbesar di negara itu melaporkan lonjakan laba bersih sebesar 79% tahun lalu setelah memperluas kapasitas tahunan menjadi 5 juta ton.
Perusahaan minyak China juga ikut serta dalam upaya ini. Sinopec Group, perusahaan kilang minyak terbesar, telah menghidupkan kembali proyek konversi batu bara menjadi olefin yang telah lama terhenti dengan biaya lebih dari US$3 miliar.
Sementara itu, unit perusahaan yang terdaftar di bursa saham telah memangkas belanja modal untuk petrokimia setelah kerugian memburuk tahun lalu.
(bbn)


























