“Dalam ekosistem kerja modern, produktivitas tidak lagi ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh hasil yang dihasilkan. Dengan dukungan teknologi dan sistem kerja yang semakin terdigitalisasi, ASN memiliki ruang untuk bekerja lebih fokus dan efisien,” jelas Trubus.
Ia menambahkan, mekanisme WFH bukanlah hal baru. Dengan sistem pengukuran kinerja yang tepat, fleksibilitas kerja seperti WFH justru dapat meningkatkan produktivitas, sebagaimana telah diterapkan di banyak sektor swasta.
“Bagi ASN, kebijakan WFH hari Jumat memberikan dampak positif untuk berinovasi dan meningkatkan kreativitas dalam pelayanan publik, karena ASN tidak terikat dengan beban kerja lain di luar tugas pokok dan fungsinya yang sering diminta diselesaikan secara cepat oleh pimpinan unit kerja. Seorang ASN juga dapat lebih leluasa mengambil keputusan secara cepat dalam merespons tuntutan pelayanan publik yang rumit dan kompleks,” pungkasnya.
Meski demikian, Trubus mengingatkan bahwa efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada implementasinya. WFH pada hari Jumat tidak boleh hanya dipandang sebagai kebijakan administratif, melainkan sebagai langkah adaptif dalam menghadapi tantangan global, dengan tetap menjaga keseimbangan antara efisiensi dan kualitas pelayanan publik.
Ia juga menekankan bahwa transformasi menuju efisiensi energi, optimalisasi kinerja, dan modernisasi budaya kerja tidak dapat terjadi secara instan, melainkan harus dibangun secara bertahap dan konsisten.
(red)



























