Logo Bloomberg Technoz

Ditutup Melemah, Beban Energi Makin Menekan Rupiah

Tim Riset Bloomberg Technoz
27 March 2026 15:34

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (27/3/2026). Sore ini, rupiah ditutup terdepresiasi 0,36% ke Rp16.965/US$, menyusul kembali menguatnya indeks dolar 0,1% ke 100. 

Penguatan dolar AS hari ini praktis membawa hampir semua mata uang di pasar Asia melemah. Rupee India terpukul paling dalam sebesar 0,8%, disusul peso Filipina 0,48%, ringgit Malaysia 0,4%, lalu rupiah 0,36%, baht Thailand 0,3%, dan dolar Singapura serta yen Jepang dengan masing-masing pelemahan 0,09%. 

Hanya yuan China dan yuan offshore-nya, serta dolar Taiwan yang berada di zona hijau dengan penguatan tipis masing-masing 0,04%,0,3% dan 0,01%. 


Harga minyak mentah Brent kembali melonjak 1,16% menjadi US$108,9 per barel. Bahkan, para analis memproyeksikan harga minyak bisa tembus US$200 per barel jika perang masih berlanjut hingga pertengahan tahun. 

Proyeksi harga minyak yang bisa menembus US$200 per barel sepertinya makin memperkuat sentimen defensif di pasar keuangan. Pelaku pasar cenderung melakukan lindung nilai dengan mempertebal kepemilikannya pada aset safe haven seperti dolar AS.