Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak ini semakin memperlebar kekhawatiran terhadap defisit fiskal, terutama melalui skema subsidi dan kompensasi energi. Hal ini membuat APBN kembali tertekan karena pemerintah harus tetap menjaga harga BBM tetap terjangkau di tengah lonjakan biaya impor.
Kekhawatiran melebarnya defisit telah meningkatkan persepsi risiko pada aset domestik dan mendorong arus keluar modal. Pasar saham domestik telah mencatatkan arus keluar modal sebanyak US$1.224 juta pada perdagangan kemarin (20/3/2026).
Begitu juga di pasar surat utang beberapa tenor pendek mulai mencatatkan kenaikan yield. Data per Senin (16/3/2026), pasar surat utang RI telah mencatatkan arus keluar modal asing sebesar US$1.222 juta secara month-to-date (mtd).
(dsp/aji)






























