“Kalau ngontrak kan anak saya lima, jadi minimal anak saya di kontrakan, saya dan istri di sini (tenda samping rel). Ga ketutup (biayanya) kalau saya ngontrak. Ngontrak yang Rp500 ribu khusus buat anak saya,” kata dia.
Kisah Pak Cono menjadi potret nyata bahwa di balik gemerlap ibu kota, masih ada warga yang hidup dalam keterbatasan ekstrem. Namun, di tengah kondisi itu, harapan mendadak hadir dalam bentuk yang tak terduga.
Ia mengaku sempat bertemu langsung dengan Presiden RI Prabowo Subianto saat melakukan blusukan ke lokasi tersebut. Momen itu menjadi titik balik yang membangkitkan asa baru bagi dirinya dan warga sekitar.
Dalam pertemuan singkat itu, Pak Cono mendapat tawaran yang selama ini hanya bisa ia bayangkan.
“Kata Pak Prabowo, 'mau ga dibikinin rumah susun?' Saya bilang, mau Pak! Karena saya ga punya tempat tinggal, emang ini adanya,” ujar dia.
Dalam agenda kunjungan ke kawasan tersebut, Prabowo menyerap aspirasi dari warga setempat, salah satunya soal hunian layak.
“Mendengar aspirasi masyarakat di sana, Insyallah Kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat, dan sudah menjadi tekad saya untuk menyediakan hunian layak untuk masyarakat Indonesia,” kata Presiden Prabowo dalam unggahan di akun Instagramnya @prabowo.
Kini, janji itu menjadi pegangan harapan bagi Pak Cono. Di tengah segala keterbatasan, ia hanya meminta satu hal, yakni kepastian tentang pembangunan rumah susun bagi dirinya dan warga di sana.
“Ya, mudah-mudahan kami dibangunkan rumah susun. Itu saja yang saya minta,” kata Pak Cono.
Harapan serupa juga datang dari warga lainnya. Salah satunya Pak Kodok, yang menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian Prabowo terhadap nasib masyarakat kecil.
“Bapak Presiden, saya terima kasih. Hormat, sehat selalu,” ujar Kodok.
(red)





























