Logo Bloomberg Technoz

Pasar SUN RI Tawarkan Cuan, Tapi Rapuh dari Sisi Risiko

Tim Riset Bloomberg Technoz
26 March 2026 16:17

Ilustrasi Surat Utang (Diolah)
Ilustrasi Surat Utang (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar Surat Utang Negara (SUN) tampaknya mulai kembali diburu investor setelah sempat tertekan oleh aksi jual pada sesi perdagangan kemarin. Sore ini, Kamis (26/3/2026), pergerakan yield SUN cenderung menurun di hampir seluruh tenor, terutama pada tenor pendek hingga menengah yang menandakan aksi beli kembali terjadi. 

Melansir data Bloomberg, di tenor pendek, yield 1Y turun 7,7 basis poin (bps) menjadi 6,03%, sementara tenor 2Y turun 0,6 bps ke 6,33% dan 3Y turun 3,2 bps ke 6,43%. Pergerakan serupa juga terjadi pada tenor menengah, dengan yield tenor 5Y turun 5,6 bps ke 6,62% dan 7Y turun 3,3 bps ke 6,94%. Yield tenor acuan 10Y juga turun 3,7 bps menjadi 6,9%. 

Aksi beli di pasar membuat yield SUN 10 tahun kembali turun Kamis (26/3/2026). (Bloomberg)

Meski begitu, tidak semua tenor bergerak seragam. Untuk tenor panjang, tekanan masih cukup terasa, dengan yield tenor 11Y naik 4,6 bps ke 6,99%, 12Y naik 5 bps ke 7,02%, dan 13Y naik 4,8 bps ke 7,06%. Sepertinya investor masih tetap berhati-hati pada tenor jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik yang saat ini terjadi. 


Masuknya kembali investor di pasar SUN sepertinya sebagai bentuk rebalancing terutama saat yield SUN sedang berada di level yang lebih menarik. Terlebih, kemarin terjadi aksi beli di pasar UST yang ikut menurunkan yield global.

Sebagai gambaran, yield SUN tenor 10Y berada di 6,9% sementara US Treasury (UST) 10Y di kisaran 4,3-4,4% di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga minyak, ada spread sekitar 250-260 bps atau 2,5%. SUN Indonesia terlihat menawarkan imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan aset safe haven.