Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, spread atau selisih yang lebar itu juga mencerminkan bahwa investor masih meminta kompensasi risiko yang tidak kecil untuk memarkirkan uang mereka di emerging markets seperti Indonesia. Terlebih sempat adanya penurunan outlook dari lembaga pemeringkat global, Moody's dan Fitch Ratings. 

Meski yield mulai turun, tapi persepsi risiko secara keseluruhan masih belum banyak berubah. Hal ini terlihat dari indikator Credit Default Swap (CDS) yang meningkat. CDS seringkali dipakai untuk menilai 'asuransi gagal bayar'. Semakin naik, maka performanya semakin buruk. 

Melansir data Bloomberg, CDS Indonesia tenor 5 tahun mengalami kenaikan 2,4 basis poin menjadi 98,9 pada sore ini, menempatkan Indonesia pada kelompok negara dengan kinerja buruk pada periode ini. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa pasar melihat risiko Indonesia sedikit meningkat, atau setidaknya tidak membaik secepat negara lain. 

Sama halnya dengan Filipina yang telah menyatakan darurat energi, dengan kenaikan CDS sekitar 1,31 basis poin ke 88,9, menandakan tingginya kekhawatiran pasar terhadap risiko negara itu. 

Sebagai perbandingan lain, Malaysia justru mencatat perbaikan, dengan CDS turun tipis ke kisaran 47,6 mencerminkan persepsi risiko yang relatif lebih rendah dan stabil di mata investor. 

Kondisi spread yield yang tetap lebar antara SUN dan UST, sementara CDS yang meningkat mengindikasikan bahwa pasar Indonesia sebenarnya menarik, tetapi juga belum cukup aman. 

(dsp/aji)

No more pages