Logo Bloomberg Technoz

Menakar Risiko Jika Pemerintah Lebarkan Defisit APBN

Mis Fransiska Dewi
16 March 2026 14:15

Simulasi Postur APBN 2026 Setelah Perubahan Asumsi Makro (Bloomberg Technoz)
Simulasi Postur APBN 2026 Setelah Perubahan Asumsi Makro (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sejumlah ekonom menilai wacana pemerintah untuk mengubah rasio defisit anggaran yang melewati batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan berdampak terhadap perekonomian, hingga turunnya peringkat utang dari lembaga rating internasional.

Sebelumnya, pemerintah memaparkan tiga skenario kondisi ekonomi Indonesia yang terdampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah. Pemerintah juga membuka peluang untuk menyesuaikan rasio defisit anggaran melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) jika terjadi kondisi krisis. 

“Tekanan terhadap pembiayaan APBN akan meningkat signifikan karena pemerintah harus menambah utang atau melakukan realokasi belanja dalam waktu yang relatif cepat,” kata Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi saat dihubungi, Senin (16/3/2026). 


Menurut Badiul, pelebaran defisit seringkali terjadi bukan karena peningkatan belanja produktif, tetapi karena lonjakan belanja yang bersifat reaktif, seperti subsidi energi dan kompensasi. 

Dia menegaskan, jika pola ini terus berulang, APBN berisiko semakin tersandera oleh belanja yang tidak menciptakan daya ungkit ekonomi yang kuat, sementara beban bunga utang terus meningkat dari tahun ke tahun.