Ketiga adalah yang paling ekstrem yaitu skenario pesimistis. Kas negara diperkirakan menerima Rp 3.363,7 triliun dan yang keluar adalah Rp 4.367,8 triliun. Hasilnya adalah minus Rp 1.004,1 triliun (4,06% PDB).
“Jadi artinya, dengan berbagai skenario, defisit 3% PDB sulit dipertahankan. Kecuali mau potong belanja dan potong pertumbuhan (ekonomi),” ungkap Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian.
Hari ini, Senin (16/3/2026), apa yang dikatakan Airlangga tersebut mendapat getahnya. Pasar merespons negatif dan pasar keuangan Tanah Air mengalami koreksi dalam.
Pada pukul 10:00 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) longsor lebih dari 2% dan meninggalkan zona 7.000. Ini menjadi yang terendah sejak pertengahan tahun lalu.
Belum lama ini, lembaga pemeringkat (rating agency) Moody’s dan Fitch menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satu alasan mereka adalah postur APBN yang melemah, dengan risiko defisit yang melampaui 3% PDB.
“Kenaikan harga minyak memang membuat batasan defisit 3% PDB menjadi menantang. Namun, pasar akan tetap memandang bahwa penembusan di level itu adalah sebuah kekurangan dalam menjaga disiplin fiskal.
“Jika defisit anggaran benar-benar melebar, maka kita mungkin akan melihat rating Indonesia juga akan diturunkan, bukan hanya outlook,” terang Brendan McKenna, Strategist di Well Fargo, seperti dikutip dari Bloomberg News.
APBN Aman?
Namun di sisi lain, sebenarnya pasar juga meyakini bahwa sejatinya kondisi fiskal di Ibu Pertiwi cukup sehat. Kieran Curtis, Head of Emerging Market Local Currency Debt di Aberdeen, menilai sebenarnya kondisi APBN masih cukup aman.
“Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, secara teori sebenarnya Indonesia bisa mengatasi defisit anggaran lebih dari 3% PDB dengan nyaman,” tutur Curtis, juga dinukil dari Bloomberg News.
Apa yang disebut Curtis ada benarnya. Dibandingkan dengan negara-negara sekelompok (peers), defisit fiskal di Nusantara seakan tidak ada apa-apanya.
Di level ASEAN, defisit APBN masih tergolong rendah. Malaysia, misalnya, mencatat defisit fiskal 3,8% PDB pada 2025.
Sementara di tingkat G-20, situasi fiskal Indonesia juga lebih terkendali. Defisit anggaran China pada 2025 adalah 4%. Kemudian di India adalah 4,4% PDB dan Afrika Selatan 4,5% PDB.
Selain itu, sebenarnya Indonesia termasuk negara yang paling aman dari dampak kenaikan harga minyak. Nomura membuat pemeringkatan berdasarkan empat ukuran yaitu intensitas energi, porsi bahan bakar fosil terhadap total pasokan energi, porsi impor energi dari Timur Tengah, dan neraca perdagangan energi.
Berdasarkan perhitungan Nomura, Thailand jadi negara paling rentan, paling rawan. Skor Negeri Gajah Putih mencapai 101,2. Makin tinggi nilainya, maka makin rapuh suatu negara menghadapi kenaikan harga minyak.
Di bawah Thailand ada Korea Selatan (100,8), Taiwan (100,5), dan India (100,5). Disusul oleh Singapura (100,5), Jepang (100,4), dan China (100,1).
Adapun skor Indonesia adalah 99,2. Indonesia nyaman di zona hijau dan hanya kalah dari Australia.
(red)






























