Logo Bloomberg Technoz

Penyebab Rupiah Jadi Runner-Up Asia Pagi Ini

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 June 2026 09:22

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Senin (15/6/2026), dengan apresiasi 0,12% ke Rp17.848/US$ kala pembukaan pasar. Tak lama berselang rupiah makin menguat 0,45% ke Rp17.790/US$ pada 09:03 WIB. 

Apresiasi mata uang Garuda ditopang oleh meredanya tekanan eksternal setelah harga minyak mentah dunia terkoreksi tajam menyusul meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Penurunan harga minyak jadi kabar baik bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importir minyak. Meredanya tekanan dari sisi energi tak cuma mengurangi risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, tetapi juga kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi impor yang sempat membayangi. 

Penguatan rupiah melaju ke Rp17.770/US$ (Bloomberg)

Sentimen positif itu, turut mendorong arus dana kembali ke aset-aset berisiko di kawasan Asia. Mata uang kawasan menguat, begitu juga dengan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara bergerak turun, sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap pasar Asia. 

Dari kawasan, peso Filipina memimpin penguatan mata uang Asia sebesar 1,05%. Di posisi kedua ada rupiah, dan dolar Taiwan di peringkat ketiga.

Mata uang Asia menguat, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak dunia. (Bloomberg)