Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Menguat Nyaris 1%, Sedikit Lagi di Bawah Rp17.700/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 June 2026 16:06

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah menutup sesi perdagangan hari ini dengan penguatan 0,94% ke Rp17.703/US$, dan mempertahankan posisi kedua terkuat di antara mata uang Asia. 

Penguatan rupiah datang dari kombinasi meredanya tekanan eksternal dari koreksi harga minyak mentah dunia ke US$83,25 per barel, setelah menyusut 4,67%. Di sisi lain, komitmen dari Bank Indonesia yang secara agresif menaikkan suku bunga acuan sebanyak 75 basis poin (bps) memberi sinyal ke pasar bahwa stabilitas rupiah jadi prioritas utama bank sentral, dan membantu meningkatkan daya tarik aset keuangan Indonesia.

Bahkan, BI juga mengerek imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 7,64% dalam lelang terakhir Jumat (12/6/2026). 


Di sisi lain, pemerintah juga menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi ke Rp16.250/ liter. Sebelumnya, sikap pemerintah menahan kenaikan harga BBM di tengah lonjakan harga minyak menjadi kekhawatiran pelaku pasar lantaran akan semakin menggerus ruang fiskal. 

Selain itu, pemerintah berencana akan melakukan penyesuaian terhadap anggaran pada program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Komunikasi pemerintah yang menyatakan adanya penyesuaian anggaran mulai dibaca oleh pelaku pasar sebagai sinyal bahwa disiplin fiskal menjadi pertimbangan.