Menurut Korea National Oil Corp, harga rata-rata bensin eceran di SPBU adalah 1.895,32 won (US$1,27) per liter pada Minggu, naik sekitar 12% dari 1.692,89 won pada 28 Februari saat AS memulai serangan udaranya terhadap Iran.
Pada Minggu, Menteri Perindustrian Kim Jung-kwan mengatakan pemerintah dapat menerapkan pembatasan harga bahan bakar dengan cepat jika kondisi pasar memburuk.
"Kami hampir menyelesaikan persiapan," kata Kim kepada wartawan setelah kembali dari perjalanan ke AS. "Kami berencana memantau kondisi pasar dan merespons sesuai kebutuhan."
Tanggapan awal akan berupa pelepasan cadangan minyak strategis negara. Cadangan ini mencapai sekitar 100 juta barel atau cukup untuk menutupi lebih dari 210 hari konsumsi, menurut Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya pada Desember.
Secara terpisah, Kim mengadakan rapat darurat dengan perusahaan penyulingan domestik dan kelompok industri untuk meninjau harga bahan bakar lokal, sambil memperingatkan perusahaan agar tidak memanfaatkan lonjakan harga minyak mentah global.
"Pemerintah akan menindak tegas siapa pun yang mencoba memanfaatkan kenaikan harga minyak global dengan cara yang merusak upaya kami untuk menstabilkan harga konsumen," kata Kim.
Seoul juga sedang menyiapkan langkah-langkah darurat untuk menstabilkan pasokan setelah pemasok petrokimia Yeochun NCC Co menyatakan force majeure (keadaan kahar) pekan lalu akibat gangguan impor nafta, menyusul ketegangan di Timur Tengah.
Kim mengatakan pada Minggu bahwa perusahaan tersebut, yang lebih bergantung pada bahan baku petrokimia daripada operasi pengolahan terintegrasi, tampaknya lebih rentan terhadap gangguan pasokan. Pejabat sedang meninjau situasi dan akan segera mengumumkan langkah-langkah terkait pasokan nafta.
Korea Selatan juga berusaha mendiversifikasi pasokan dan mengamankan muatan alternatif dari wilayah di luar Timur Tengah. Uni Emirat Arab pekan lalu menawarkan pengiriman minyak mentah yang akan melewati Selat Hormuz.
(bbn)






























