"Meskipun bauran sektoral indeks membantu meredam imbas kenaikan harga minyak secara langsung, paparan risiko makro tetap menjadi sentimen yang signifikan. Volatilitas minyak yang tinggi masih dapat memengaruhi neraca perdagangan, lintasan inflasi, dan fleksibilitas kebijakan, terutama di negara-negara dengan ekonomi yang sangat bergantung pada impor," seperti dikutip dari riset Bloomberg Intelligence.
Prospek Makro & Anjloknya IHSG
Berbicara soal kondisi makro, kondisi RI tengah menjadi sorotan, tercermin dari perubahan sikap lembaga pemeringkat internasional, yakni Fitch Rating dan Moody's.
Sebelumnya, Fitch Ratings merevisi outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, sekaligus mempertahankan peringkat utang jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) di level ‘BBB’, menurut laporan yang dirilis lembaga pemeringkat tersebut pada Rabu (4/3/2026).
Sebulan sebelumnya, Moody's Ratings lebih dulu menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat utang RI di level Baa2, peringkat investment grade dengan risiko menengah.
Keputusan revisi outlook kedua lembaga pemeringkat ini terjadi menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta lemahnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia, terutama di tengah kecenderungan sentralisasi pengambilan keputusan.
Dalam pandangan Fitch, dinamika tersebut berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, dan meningkatkan tekanan terhadap cadangan eksternal RI.
Senada, Moody's juga menilai pelemahan tata kelola dan risiko fiskal yang cenderung meningkat termasuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai 2,9% terhadap PDB jadi faktor utama pemangkasan outlook kredit tersebut.
Moody's menyoroti soal tata kelola, kebijakan, dan risiko institusional, dengan kondisi kebijakan pemerintah semakin sulit ditebak. Lemahnya koordinasi antarkebijakan serta lemahnya konsistensi komunikasi ke pasar menjadi hal yang digarisbawahi oleh Moody's.
Sentimen tersebut yang menjadi tekanan tambahan signifikan untuk IHSG, meski bauran sektoralnya didominasi oleh sektor finansial.
Hari ini saja, IHSG sempat anjlok 2,7% ke level 7.500, setelah kemarin menguat lebih dari 1%. IHSG mampu memangkas penurunan jelang penutupan sore hari, namun penurunannya masih di kisaran 1,9%.
Pergerakan itu menambah panjang deretan penurunan signifikan IHSG yang terjadi belakangan ini.
(fik/naw)





























