Industri RI Tertekan Tarif AS, Respons Pemerintah Jadi Penentu
Sultan Ibnu Affan
06 March 2026 13:23

Bloomberg Technoz, Jakarta - Industri nasional berpotensi menghadapi tekanan jika pemerintah tidak memberikan dukungan yang memadai dalam merespons kebijakan tarif resiprokal yang digagas Amerika Serikat dalam Agreement Reciprocal Tariff (ART).
Direktur Lembaga Peneliti dan Konsultan Prognosa Garda Maharsi mengatakan kebijakan tersebut dinilai dapat memicu kontraksi neraca perdagangan hingga menekan sejumlah sektor industri domestik jika tidak diimbangi dengan strategi mitigasi yang tepat.
“Kebijakan reciprocal trade ini berisiko karena kita memiliki kewajiban untuk memfasilitasi pembelian komoditas tertentu dari Amerika Serikat yang nilainya mencapai US$38,4 miliar," ujarnya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
"Dengan angka sebesar itu, relatif akan membuat neraca dagang kita terkontraksi jika tidak diimbangi strategi mitigasi untuk mendorong ekspor kita ke Amerika menjadi lebih baik,” sambungnya menegaskan.
Garda mengatakan, Indonesia selama ini mencatat surplus perdagangan dengan AS. Namun, tren tersebut dinilai fluktuatif. Karena itu, kebijakan tarif yang bersifat timbal balik berpotensi mengubah dinamika perdagangan kedua negara.





























