Digitalisasi Keuangan Melonjak, BI Ingatkan Risiko Penipuan
Pramesti Regita Cindy
06 March 2026 12:45

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengingatkan pentingnya peningkatan literasi keuangan di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan. Hal ini dinilai krusial untuk melindungi masyarakat dari berbagai risiko, termasuk maraknya penipuan digital dan pinjaman online ilegal.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan akses masyarakat terhadap layanan keuangan memang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun peningkatan inklusi keuangan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan literasi agar masyarakat mampu memahami risiko dari penggunaan produk dan layanan keuangan digital.
"Literasi dan inklusi keuangan di Indonesia perlu terus ditingkatkan. [Memang] sudah ada kemajuan dari tahun ke tahun, tapi perlu terus ditingkatkan," kata Perry dalam agenda Aksi KLIK dan Aku Bisa Sejahtera secara Hybrid, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan nasional tercatat mencapai 92,74%. Angka ini mendekati target jangka panjang pemerintah yang menargetkan inklusi keuangan sebesar 98% pada 2045 sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.
Meski demikian, Perry menilai tantangan utama saat ini adalah memastikan peningkatan inklusi keuangan berjalan seiring dengan peningkatan literasi masyarakat. Menurutnya, inklusi tidak hanya berarti masyarakat memiliki akses atau menggunakan layanan keuangan digital seperti QRIS atau rekening perbankan.































