"Kita belum sampai ke situ, tapi yang jelas, produk-produk yang menggunakan bahan baku impor bisa saja nanti akan terganggu," tutur dia.
"Kemarin kita kaji dengan BK Perdag, tapi kami juga belum bisa memastikan sebelum kami memang dapat masukan juga dari para pelaku usaha. Mudah-mudahan, harapan kita perang cepat selesai."
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat mencapai US$22,16 miliar, atau meningkat 3,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibanding Januari 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebutkan nilai ekspor migas tercatat US$890 juta atau turun 15,62%, sedangkan nilai ekspor non-migas naik 4,38% dengan nilai US$21,26 miliar.
Dari sisi negara tujuan eskpor, Indonesia mencatat kinerja perdagangan dengan Amerika Serikat yang terus menunjukkan tren peningkatan ekspor dalam tiga tahun terakhir.
Nilai ekspor Indonesia ke AS tercatat sebesar US$23,27 miliar pada 2023, meningkat menjadi US$26,53 miliar pada 2024, dan kembali melonjak menjadi US$30,98 miliar sepanjang 2025.
Kenaikan ini mempertegas posisi AS sebagai salah satu pasar utama ekspor non-migas Indonesia.
Secara rinci, ekspor non-migas ke AS pada Januari-Desember 2024 tercatat US$26,53 miliar dan naik menjadi US$30,95 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Sebaliknya, ekspor migas justru menurun dari US$96,2 miliar pada 2024 menjadi US$28,0 miliar pada 2025.
Di sisi impor, tren juga menunjukkan kenaikan yang lebih moderat. Impor Indonesia dari AS tercatat US$11,29 miliar pada 2023, meningkat menjadi US$12,01 miliar pada 2024, dan mencapai US$12,84 miliar pada 2025.
(ain)





























