Secara bersamaan pada kesempatan tersebut, terdapat isu pemutusan hubungan kerja (PHK) yang juga dibahas sebagai efek domino dari kebijakan pemangkasan RKAB oleh pemerintah yang ingin mengendalikan harga nikel lantaran kelebihan pasokan atau oversupply nikel.
Dalam forum tersebut, Meidy menuturkan APNI hingga kini belum menghitung secara terperinci ihwal dampak PHK tersebut, khususnya bagi pekerja smelter nikel.
Akan tetapi, dia mengungkapkan sudah ada tiga smelter yang terdampak. Namun, di dalam forum Meidy tidak menyebutkan nama ketiga perusahaan smelter yang terganggu.
Seusai acara, Bloomberg Technoz mengonfirmasi ulang kepada Meidy ihwal pernyataan yang disampaikan di dalam forum tersebut melalui wawancara cegat atau doorstop.
Dia lantas menyebutkan tiga perusahaan smelter tersebut yakni PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) di Bantaeng, Sulawesi Selatan; PT Wanxiang Nickel Indonesia di Morowali, Sulawesi tengah; dan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morowali.
Dalam perkembangan sehari setelahnya, Meidy menuding bahwa pemberitaan tersebut bukan merupakan hasil wawancara langsung dengannya, padahal Bloomberg Technoz telah mengonfirmasi langsung dan bertemu dengan Meidy, yang menyebut lima lini produksi Gunbuster mengalami shutdown.
“Pemberitaan tersebut bukan merupakan hasil wawancara langsung dengan saya,” tulis rilis yang dipublikasikan APNI pada Selasa (3/3/2026).
Berikut lampiran petikan wawancara Bloomberg Technoz terhadap Meidy:
(red)






























