Logo Bloomberg Technoz

Dekati Rp17.000/US$, Rupiah Terlemah Kedua di Asia Pagi Ini

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 March 2026 09:15

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah lantaran genderang perang antara AS-Iran semakin nyaring hingga menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia. 

Dalam pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026), rupiah kembali melemah terhadap dolar AS sebesar 0,43% ke Rp16.929/US$. Rupiah pagi ini semakin dekat dengan level psikologis Rp17.000/US$

Gejolak pasar yang tak kunjung mereda membuat mata uang di pasar Asia melemah dalam lima hari terakhir. Mengacu data Bloomberg, dalam lima hari terakhir rupiah melemah sebesar 0,43%. Sementara, pelemahan paling dalam terjadi terhadap won Korea Selatan 3,7%, disusul baht Thailand 2,03%, peso Filipina 1,89%, ringgit Malaysia 1,46%, dolar Taiwan 1,31%. 


Penguatan indeks dolar AS ke level 99 lagi membuat pelemahan juga terjadi pada hampir semua mata uang Asia, kecuali won Korea Selatan dan yen Jepang sebagai aset safe haven dapat membalikkan kondisinya dan menguat terbatas, lantaran lebih diburu pelaku pasar daripada aset emerging markets lainnya. 

Nilai tukar mata uang Asia di pasar spot pada Rabu pagi (4/2/2026), pukul 09.05 WIB. (Bloomberg)

Eskalasi konflik yang terjadi membuat pelaku pasar global menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko. Jika perang ini semakin menyebabkan harga minyak dunia melonjak tinggi dalam waktu lama, maka risiko inflasi bisa meningkat karena biaya impor energi menjadi lebih mahal.