Logo Bloomberg Technoz

Hujan Impor Migas RI: ‘Silent Killer’ di Balik Sakitnya Rupiah

Redaksi
03 June 2026 17:30

Ilustrasi Migas (Bloomberg Technoz)
Ilustrasi Migas (Bloomberg Technoz)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Rupiah makin tertekuk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) usai usai ditutup di level Rp17.957/US$, menjadikannya rekor terlemah sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka.

Berbagai analisis seputar penyebab pelemahan rupiah yang tak kunjung bisa direm pun terus bergulir.

Isu penyusutan neraca perdagangan, kekhawatiran risiko inflasi, sentimen terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah, hingga faktor eksternal akibat ketidakpastian geopolitik global banyak dituding menjadi faktor penyebab runtuhnya mata uang Garuda.


Sejatinya, padahal, pelemahan rupiah hingga hari ini tidak bisa dilepaskan dari satu faktor yang terjadi di sektor riil, yaitu; pembengkakan impor komoditas energi alias minyak dan gas (migas) yang menyedot devisa dalam jumlah masif. 

Kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi meningkat drastis dalam waktu singkat. [...] Ini menunjukkan bahwa surplus ekspor Indonesia sebenarnya banyak terkuras untuk membayar kebutuhan energi [yang] diimpor.

Ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi

Dalam kaitan itu, ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi mengatakan permintaan dolar yang tinggi untuk kebutuhan sektor energi tecermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru yang menunjukkan lonjakan nilai impor migas.