Logo Bloomberg Technoz

Gejolak Perang, Buat Rupiah Offshore Sempat Tembus Rp17.000

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 March 2026 08:25

Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar AS (Diolah)
Ilustrasi Rupiah terhadap Dolar AS (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah semakin melemah di pasar mancanegara. Pada Rabu pagi ini, kontrak rupiah Non-Deliverable Forward (NDF) stagnan pada level penutupan kemarin Rp16.905/US$. Tak berselang lama rupiah kembali melemah 0,11% ke Rp16.923/US$ pada 07.15 WIB. Bahkan tadi malam data Bloomberg juga menunjukkan rupiah offshore sempat menyentuh Rp17.020/US$ pada pukul 22.22 WIB. 

Level rupiah NDF ini jadi yang terlemah yang pernah diperdagangkan di pasar offshore secara year-to-date (ytd) sejak awal tahun. Pada 20 Januari, rupiah NDF sempat menyentuh Rp16.993/US$, namun berhasil turun dalam sepekan kemudian pada 27 Januari ke Rp16.698/US$. 

Pergerakan mata uang rupiah di pasar offshore dan spot (garis merah) dalam tiga hari terakhir hingga Rabu pagi (4/3/2026). (Bloomberg)

Rupiah offshore kembali tertekan oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang tercatat 0,68% dan berada di level 99 lagi, setelah beberapa pekan berada di rentang 96 dan 97-an. 


Eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang semakin meluas menciptakan peningkatan risiko gangguan pasokan energi, pasar global saat ini masuk ke mode risk-off: dolar AS menguat, imbal hasil obligasi melonjak, dan mata uang emerging markets tertekan.

Namun penguatan dolar AS ini tak membuat semua mata uang Asia kompak berada di zona merah. Pagi ini, di pasar spot penguatan terjadi pada won Korea Selatan, yen Jepang, yuan offshore China, dan ringgit Malaysia. Sebaliknya, baht Thailand melemah bersama dolar Singapura, dan dolar Hong Kong. 

Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan Rabu pagi (4/3/2026). (Bloomberg)