"Sekarang kita menghadapi guncangan Iran dengan harga minyak yang melonjak signifikan—kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan," kata Yellen dalam konferensi industri pelayaran S&P Global TPM26. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lebih dari hitungan hari, Yellen memperingatkan harga minyak bisa tetap tinggi atau bahkan melonjak lebih jauh.
Psikologi Inflasi
Mengingat The Fed belum berhasil menurunkan inflasi kembali ke target 2%, “mereka benar-benar harus khawatir bahwa pelaku pasar mulai berkata pada diri mereka sendiri: Ya, mereka berhasil menurunkannya ke 3%, tetapi mereka tidak serius untuk membawanya turun ke 2%,” ujarnya.
"Jika psikologi semacam itu muncul, mereka akan khawatir tentang inflasi tinggi yang permanen. Itulah alasan mengapa The Fed mungkin akan lebih memilih untuk menahan diri," jelasnya.
Terlepas dari berbagai risiko serius termasuk konflik Iran, mantan menteri keuangan itu mengatakan, “Kesimpulan saya, ekonomi AS saat ini cukup sehat, dan saya cukup optimistis terhadap prospek ekonomi.”
Yellen juga menyoroti sejumlah langkah pemerintahan Trump terkait The Fed. Upaya presiden untuk mencopot Gubernur Lisa Cook disebutnya “nyaris tak terpikirkan.” “Mahkamah Agung belum memberikan pendapatnya, tetapi kemungkinan besar Trump akan kalah,” ujarnya.
‘Pukulan Serius’
Trump, kata Yellen, “mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan pada dasarnya mempersenjatai Departemen Kehakiman terhadap gubernur The Fed,” merujuk pada penyelidikan DOJ atas pernyataan tahun lalu oleh Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai pembengkakan biaya renovasi gedung bank sentral. Jika sampai muncul dakwaan pidana, hal itu akan menjadi “ancaman besar terhadap independensi The Fed,” katanya.
"Saya yakin semua orang menyadari bahwa ini akan menjadi pukulan serius bagi kebijakan ekonomi dan sesuatu yang bisa memicu inflasi tinggi," tegasnya.
Secara lebih luas, Yellen menyebut "inisiatif Trump yang meresahkan ekonomi global telah menyebabkan investor menuntut premi risiko yang lebih tinggi pada obligasi pemerintah AS (Treasury)." Ketidakpastian kebijakan ekonomi ini juga memberikan "tekanan pada pelemahan nilai tukar dolar AS" dan menciptakan persepsi bahwa risiko yang lebih tinggi "perlu dikompensasi," kata Yellen.
(bbn)



























