Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Lonjakan Inflasi

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 June 2026 15:49

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sempat bergerak volatil pada sesi perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah menutup hari dengan penguatan 0,2% ke Rp17.838/US$, dan menempati posisi pertama mata uang kawasan yang menguat. 

Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang hari ini 0,13% ke posisi 99,07. Begitu juga dengan harga minyak mentah dunia terkikis 1,62% ke US$93,44 per barel. 

Harga minyak dunia yang cukup jinak membawa mata uang kawasan sebagian bergerak di zona hijau. Selain rupiah, dolar Singapura, peso Filipina, yuan China, baht Thailand, dan yuan offshore juga menguat dalam perdagangan hari ini. 

Rupiah ditutup menguat 0,2% pada Selasa (2/6/2026). (Bloomberg)

Penguatan rupiah pada sesi perdagangan sore ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan tingkat inflasi yang tercatat naik menjadi 3,08%, melampaui ekspektasi pelaku pasar di level 2,94%. 

"Ke depan, kami memperkirakan inflasi akan menembus batas atas target BI pada Juni, dan berpotensi naik lebih tinggi lagi apabila gangguan pasokan energi dari Timur Tengah terus berlanjut. Prospek tersebut, ditambah dengan kondisi rupiah yang masih rentan terhadap meningkatnya aversi risiko global, kemungkinan akan mendorong kenaikan suku bunga acuan kembali pada akhir bulan ini," sebut Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.