BPS memaparkan, terjadi inflasi 0,68% pada Februari dibanding bulan sebelumnya (month–to–month/mtm). Lebih cepat dibanding bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,15%. Serta lebih tinggi dibanding konsensus pasar.
Adapun Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg meramal inflasi Februari sebesar 0,3% mtm.
Secara tahunan, dibanding dengan Februari 2025 (year–on–year/yoy), terjadi inflasi 4,76%. Lebih tinggi dibanding Januari sebelumnya yang tercatat inflasi 3,55% yoy. Artinya, inflasi RI menanjak. Sementara, Konsensus Bloomberg memprediksi inflasi Februari sebesar 4,3% yoy.
Berdasarkan Kelompok pengeluaran, inflasi didorong oleh Kelompok komoditas perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi mencapai 16,19% dan memberi andil 2,26%. Komoditas yang memberi andil inflasi adalah tarif listrik.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Konferensi Pers turut menyebut, inflasi Februari 2026 yang lebih tinggi dibanding Desember 2025 dan Januari 2026 dipengaruhi low base effect.
Pada Januari–Februari 2025 tahun lalu, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan IHK dan mendorong terjadinya deflasi. Penurunan IHK ini menyebabkan level harga pada Januari–Februari 2025 berada lebih rendah dari pola tren normalnya. Dengan itu, terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari yang sebelumnya 105,48 pada Februari 2025 menjadi 110,50 pada Februari 2026.
(fad/wep)


























