Di Balik Inflasi 3,08%, Ada Erosi Daya Beli yang Mengkhawatirkan
Redaksi
02 June 2026 17:12

Bloomberg Technoz, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia melonjak menjadi 3,08% secara tahunan pada Mei 2026. Memang, angka ini bisa dianggap masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI), tetapi menjadi bukti bahwa ada dampak dari tingginya harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Melansir data BPS, selama 2024-2025, inflasi Indonesia relatif terkendali karena banyak tekanan harga bersifat temporer. Namun data Mei 2026 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.
Peningkatan inflasi terutama didorong oleh lonjakan inflasi pangan, yang naik menjadi 4,94% secara tahunan dari 3,06% secara tahunan pada bulan sebelumnya, sekaligus menjadi level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan utama, ditambah biaya distribusi dan logistik yang masih tinggi di beberapa wilayah, menjadi faktor utama pendorong percepatan tersebut.
Inflasi periode Mei tak lagi hanya terjadi pada pangan, tetapi hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok makanan dan minuman naik 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, hingga perawatan pribadi mencapai 10,35%.


























