Ketiga, komponen volatil food, atau kelompok bahan makanan yang harganya mudah bergejolak, seperti bahan makanan segar: cabai, daging ayam ras, kangkung, bayam, minyak goreng, dan lainnya. Kelompok ini menyumbang kenaikan 4,01% secara tahunan.
Sedangkan, inflasi inti yang sebenarnya lebih mencerminkan permintaan domestik hanya menyumbang sebesar 2,63%, dan relatif terkendali. Komponen inflasi inti terdiri dari perumahan, pendidikan, barang dan jasa rumah tangga, transportasi dan komunikasi, hiburan dan rekreasi, serta perawatan pribadi.
Jika ditelisik lebih lanjut, inflasi inti di kelompok pengeluaran Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan, tercatat 0%. Begitu juga dengan inflasi di kelompok pengeluaran Pendidikan hanya naik 0,06% dan kelompok Rekreasi, Olahraga, dan Budaya hanya 0,02%.
Artinya, inflasi terjadi lantaran harga-harga naik karena ada penyesuaian harga energi dan komponen yang diatur pemerintah bukan kenaikan pada inflasi inti yang menjadi indikator kondisi ekonomi sehari-hari dan mencerminkan adanya dorongan permintaan dari konsumen.
Hal ini dapat mengindikasikan adanya tekanan harga, di saat daya beli masyarakat terindikasi belum sepenuhnya pulih.
Daya Beli Tertekan
Kenaikan tarif listrik sebagai salah satu komponen yang menyumbang lonjakan inflasi agaknya akan semakin menekan daya beli kelompok rumah tangga, khususnya kelas menengah bawah.
Data BPS juga menunjukkan bahwa inflasi tertinggi justru terjadi pada subkelompok listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 50,25%.
Tekanan harga juga muncul pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 3,51%, di tengah momentum konsumsi seperti Ramadan yang terjadi sejak pertengahan Februari lalu.
Akan tetapi, saat harga energi dan pangan naik secara bersamaan, ruang belanja rumah tangga akan semakin sempit terutama untuk kelompok pengeluaran non-esensial. Tak heran jika roda perekonomian belum sepenuhnya berputar. Masyarakat saat ini masih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari.
Dengan kondisi tersebut, tekanan inflasi saat ini merupakan cerminan kenaikan biaya, daripada dorongan permintaan yang kuat dari konsumsi rumah tangga. Artinya, inflasi yang terjadi saat ini sedang menunjukkan tekanan biaya yang harus ditanggung rumah tangga di Indonesia, dan belum mencerminkan adanya penguatan ekonomi.
Padahal, ekonomi Indonesia sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga. Jika konsumsi rumah tangga ini tertekan dan daya beli semakin tergerus, mungkin akan berpengaruh pada ruang ekspansi manufaktur domestik yang ikut tertunda serta efek pengganda (multiplier effect) menjadi semakin lemah.
(dsp/aji)


























