Senada juga dengan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), saham emiten perdagangan jasa logistik migas itu melesat 3,08% ke Rp1.335/saham.
Diketahui, ketegangan konflik Timur Tengah saat ini kembali memanas usai Israel meluncurkan rentetan serangan udara ke berbagai target di Iran pada Sabtu (28/2/2026). Kantor Berita Fars melaporkan tiga ledakan besar terdengar di pusat kota Teheran. Beberapa rudal diduga kuat menghantam titik-titik vital di Ibu Kota.
Iran pun melancarkan gelombang serangan pesawat tanpa awak (drone) ke basis–basis militer AS dan sekutunya di Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya menyebut, IRGC berjanji memberikan respons menyakitkan dan telah meluncurkan serangan rudal serta drone yang menargetkan pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di area Teluk, termasuk fasilitas di Bahrain, Qatar (Al Udeid), Kuwait, dan Uni Emirat Arab, serta memperluas serangan ke Israel sebagai bagian dari eskalasi balasan regional.
“Risiko premi geopolitik pada minyak meningkat; analis melihat potensi harga minyak bisa mencapia di atas US$ 100/barrel jika konflik meluas,” jelas riset Kiwoom.
RHB Sekuritas juga menyebut, salah satu perhatian utama global adalah Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan LNG dunia. Bahkan tanpa penutupan penuh, risiko gangguan yang kredibel dapat menambah premi risiko geopolitik pada harga minyak mentah.
“Kenaikan biaya energi berpotensi mendorong ekspektasi inflasi global, memperketat kondisi keuangan, serta meningkatkan volatilitas pasar,” jelas RHB.
Bagi Indonesia, lanjut analisis RHB, implikasinya bersifat campuran. Kenaikan harga komoditas dapat mendukung penerimaan ekspor, terutama batu bara dan produk berbasis sumber daya alam.
Namun sebagai net oil importer, Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan beban subsidi dan tekanan fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Terkait IHSG, sentimen jangka pendek cenderung lebih berhati–hati di tengah potensi arus keluar dana asing dan sensitivitas terhadap pergerakan rupiah. Biarpun demikian, saham–saham berbasis komoditas dapat menunjukkan ketahanan relatif apabila harga energi dan emas tetap kuat, dengan emiten minyak dan gas, batu bara, dan emas menjadi penerima manfaat utama.
(fad/aji)



























