Dari total Rp427,5 triliun insentif KLM, sebesar Rp357,9 triliun disalurkan melalui saluran pembiayaan atau lending channel, yaitu kepada bank yang aktif memberikan kredit ke sektor prioritas. Sementara Rp69,6 triliun melalui interest rate channel, yaitu insentif bagi bank yang cepat mentransmisikan penurunan suku bunga kebijakan ke suku bunga kredit.
Di sisi lain, Destry menjelaskan, transmisi suku bunga memang menjadi salah satu tantangan. Sejak September 2024, BI telah menurunkan BI-Rate sebesar 150 basis poin (bps). Namun, penurunan suku bunga kredit baru untuk pinjaman baru tercatat sekitar 88 bps.
"Artinya bank sudah mulai siap sebenarnya. Untuk lending appetite-nya bank sudah mulai tinggi, dan inipun kami memberikan insentif." Meski demikian, ia mengakui tantangan intermediasi masih cukup besar. Salah satu indikatornya adalah besarnya kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) yang mencapai Rp2.506 triliun atau 22,65% dari total plafon kredit tersedia.
"Nah ini yang tentunya perlu kita dorong sehingga Ia akan menjadi nanti sumber bagi pertumbuhan ekonomi," kata Destry.
Baca Juga: OJK Nilai Penempatan Dana Rp200 T Lebih Lama Pacu Bunga Kredit Turun
"Tapi ini adalah menjadi satu PR kita bersama termasuk pelaku bisnis akademisi dan sebagainya yang kita tentunya keroyokan untuk mencari apanya kira-kira solusi yang perlu kita lakukan supaya intermediasi dari perbankan kita ini bisa optimal," pungkasnya.
Buku KSSK dan Tantangan Pertumbuhan Ekonomi
Dalam kesempatan yang sama Destry mewakili BI juga merilis buku Kajian Stabilitas Keuangan (KSSK) edisi ke-46 bertajuk 'Mengakselerasi Intermediasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Tinggi' sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman publik terhadap kondisi sistem keuangan nasional dan arah perekonomian Indonesia.
"Tujuan dari peluncuran buku ini adalah meningkatkan pemahaman kepada masyarakat mengenai potret dan insight kondisi sistem keuangan Indonesia dan juga tentunya ekonomi kita," urai Destry.
Dalam peluncuran edisi kali ini, Destry mengungkapkan, BI menghadirkan sampul bermakna yang digambarkan melalui sebuah kapal kayu kokoh yang melaju di tengah ombak besar.
Baca Juga: DEN Sebut Kebijakan Purbaya Belum Bisa Kerek Kredit Bank
Menurut Destry, kapal tersebut melambangkan Indonesia sebagai negara yang kuat dan terus bergerak maju menuju cita-cita bersama. Kapal itu digambarkan mampu mengangkut banyak orang dan tetap stabil meski diterpa gelombang.
"Jadi ini ibaratnya ini adalah Indonesia, seluruh bangsa dan rakyat Indonesia yang diangkut oleh si kapal ini di mana kapal ini adalah negara kita Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kokoh, di mana meluncur terus ke depan menuju satu arah kita bersama yaitu menuju Indonesia yang maju," ungkapnya. "Jadi ini pertama kapal yang begitu kokoh yang meluncur ke depan untuk menggapai cita-cita kita."
Sementara ombak besar di belakang kapal merepresentasikan gejolak global dan ketidakpastian kebijakan internasional, termasuk dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan ekonomi domestik.
Meski demikian, ia menekankan bahwa sinergi antar lembaga dan kebijakan yang terkoordinasi membuat Indonesia mampu melewati berbagai guncangan. Hal tersebut, kata Destry tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi secara tahunan kemarin yang mencapai 5,11%, dan 5,39% pada kuartal keempat.
Ia menegaskan bahwa melalui forum KSSK, BI ingin mengajak publik dan pemangku kepentingan untuk membahas lebih dalam daya tahan ekonomi nasional serta tantangan yang akan dihadapi ke depan. Oleh karena nya, melalui peluncuran KSSK ke-46 ini, BI berharap transparansi dan komunikasi kebijakan semakin kuat, sekaligus mempertegas komitmen menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
(prc/wep)































