Hadapi Puncak Ramadan, ALTO Pastikan Sistem Andal

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bulan Ramadan kembali menegaskan posisinya sebagai periode dengan perputaran ekonomi tinggi di Indonesia. Selain menjadi momen refleksi spiritual, Ramadan juga identik dengan lonjakan konsumsi masyarakat di berbagai sektor. Aktivitas belanja, perjalanan, hingga pembayaran kewajiban sosial meningkat signifikan.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada perubahan mencolok dalam pola transaksi. Jika sebelumnya uang tunai mendominasi, kini pembayaran digital justru tumbuh jauh lebih agresif. Transformasi ini terlihat semakin kuat pada Ramadan dan Idulfitri 2025.
Data Bank Indonesia menunjukkan volume transaksi QRIS tumbuh sekitar 111 persen secara tahunan pada periode tersebut. Angka ini menegaskan percepatan adopsi pembayaran berbasis QR di berbagai lapisan masyarakat. Sebaliknya, pertumbuhan uang kartal hanya berada di kisaran 8 hingga 9 persen secara tahunan.
Perbandingan tersebut memperlihatkan adanya pergeseran struktural menuju transaksi non tunai. Lonjakan aktivitas ekonomi Ramadan kini tidak lagi identik dengan peningkatan uang beredar secara fisik. Kanal digital mengambil porsi yang semakin dominan dalam menopang konsumsi masyarakat.
Transformasi ini tercermin dalam berbagai aktivitas selama Ramadan. Pembelian kebutuhan pokok dan menu berbuka puasa semakin sering dilakukan lewat aplikasi dan pembayaran QRIS. Tiket mudik, belanja kebutuhan Lebaran, hingga pengiriman hampers juga banyak diproses secara digital.
Penyaluran THR, pembayaran zakat, dan donasi pun mengikuti tren serupa. Transfer antarbank real time, virtual account, top up dompet digital, serta kartu debit menjadi metode yang banyak dipilih. Faktor kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas menjadi alasan utama.
Di balik pertumbuhan tersebut, tantangan baru muncul bagi industri keuangan. Fokus tidak lagi semata pada peningkatan adopsi digital, melainkan pada kesiapan infrastruktur. Ramadan menjadi ujian tahunan bagi sistem pembayaran nasional.
Lonjakan transaksi dalam waktu singkat menuntut sistem yang stabil dan mampu menangani beban tinggi. Skalabilitas dan keamanan menjadi faktor krusial agar transaksi tetap lancar. Gangguan kecil saja dapat berdampak luas di tengah tingginya volume pembayaran.
Infrastruktur Andal Jadi Kunci Stabilitas
Sebagai salah satu Penyelenggara Infrastruktur Pembayaran di Indonesia, ALTO Network memandang Ramadan sebagai periode krusial. Perusahaan memastikan ekosistem pembayaran tetap berjalan tanpa hambatan. Layanan switching dan interkoneksi antarbank menjadi tulang punggung proses tersebut.
ALTO berperan memproses transaksi secara cepat dan aman, termasuk saat jam sibuk. Momentum menjelang berbuka puasa dan setelah salat tarawih kerap menjadi puncak aktivitas. Pada waktu-waktu tersebut, sistem harus tetap responsif.
CEO ALTO Network, Gretel Griselda, menekankan pentingnya fondasi infrastruktur yang kokoh. “Lonjakan transaksi selama Ramadan menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur pembayaran yang stabil dan dapat diandalkan. Bagi ALTO, prioritas utama kami adalah memastikan setiap transaksi diproses secara aman, konsisten, dan tanpa gangguan, sehingga bank dan mitra kami dapat terus memberikan pengalaman terbaik bagi nasabahnya,” ujar Gretel.
Ia menambahkan bahwa inovasi digital harus berjalan berdampingan dengan kepercayaan. “Kepercayaan adalah fondasi ekosistem pembayaran. Inovasi harus berjalan seiring dengan reliability. Dengan kombinasi keduanya, kami ingin memastikan ALTO dapat terus menjadi mitra yang relevan dan terpercaya dalam mendukung pertumbuhan industri pembayaran nasional,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan transaksi digital tidak cukup hanya ditopang teknologi canggih. Keandalan sistem dan konsistensi layanan menjadi faktor pembeda. Kepercayaan publik dibangun dari pengalaman transaksi yang mulus.
Langkah ALTO sejalan dengan arah kebijakan Bank Indonesia. Otoritas moneter tersebut terus mendorong penguatan infrastruktur sistem pembayaran nasional. Stabilitas tetap dijaga di tengah akselerasi digitalisasi.
Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, Bank Indonesia menyiapkan Rp185,6 triliun uang layak edar. Sekitar Rp177 triliun dialokasikan untuk kebutuhan perbankan. Di saat yang sama, BI tetap mendorong pemanfaatan pembayaran digital.
Pendekatan ini menunjukkan adanya keseimbangan kebijakan. Kebutuhan uang tunai tetap dipenuhi, namun transformasi non tunai terus dipercepat. Strategi tersebut bertujuan menjaga stabilitas sekaligus mendorong efisiensi ekonomi.
Bagi perbankan dan pelaku sistem pembayaran, dinamika ini membuka peluang besar. Pengembangan use case QRIS dapat diperluas ke lebih banyak sektor. Pengalaman transaksi yang semakin praktis menjadi nilai tambah kompetitif.
Di sisi lain, tanggung jawab juga meningkat. Lonjakan transaksi berpotensi meningkatkan risiko fraud dan gangguan sistem. Ekspektasi nasabah terhadap kecepatan dan keamanan juga semakin tinggi.
Ramadan 2026 diproyeksikan kembali mencatat pertumbuhan signifikan transaksi digital. Namun esensi utamanya bukan sekadar angka pertumbuhan. Yang lebih penting adalah kesiapan ekosistem menopang skala transaksi yang terus membesar.
ALTO Network menilai momen ini sebagai pengingat akan pentingnya keseimbangan inovasi dan keandalan. Pemantauan sistem secara konsisten menjadi bagian dari strategi menjaga kualitas layanan. Kolaborasi dengan perbankan dan mitra industri juga terus diperkuat.
Dengan infrastruktur yang terjaga dan sistem yang tangguh, masyarakat dapat bertransaksi dengan aman dan nyaman. Ramadan pun tidak hanya menjadi puncak aktivitas ekonomi, tetapi juga simbol kematangan ekosistem pembayaran digital Indonesia.
Perjalanan menuju masyarakat non tunai memang masih berproses. Namun tren pertumbuhan saat Ramadan menunjukkan arah yang semakin jelas. Digitalisasi pembayaran kini menjadi fondasi penting dalam mendukung perputaran ekonomi nasional.

































