Sumber Alternatif
Terpisah, analis komoditas dan Founder Traderindo Wahyu Laksono menyatakan jika Indonesia resmi menyetop ekspor logam timah, terdapat potensi smelter timah di China kekurangan bahan baku sehingga perlu mencari sumber alternatif lain.
Di sisi lain, volume perdagangan timah di Singapura juga diprediksi terkontraksi atau berubah bentuk menjadi produk olahan yang lebih hilir. Sekadar catatan, Singapura selama ini merupakan lokasi perdagangan dan singgah timah Indonesia ke pasar global.
Adapun, Korea Selatan dan Jepang diprediksi harus mencari sumber pasokan alternatif agar industri manufaktur elektronik dan otomotif yang bergantung pada pasokan timah dari Indonesia tetap berjalan normal
“Mereka [Korea Selatan dan Jepang] kemungkinan harus membayar premi harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan timah murni,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekspor timah Indonesia masuk dalam kode HS 80011000 unwrought tin, not alloyed atau timah murni. Sementara itu, bijih timah yang masuk dalam kode HS 26090000 tin ores & concentrates, tercatat tak diekspor oleh Indonesia.
Ekspor bijih timah sempat tercatat dilakukan pada 2023, 2022, dan 2021, namun masing-masing hanya sebesar 91 kilogram (kg), 55 kg, dan 40 kg.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Cecep Mochammad Yasin mengamini Indonesia memang sudah tidak mengekspor bijih timah.
Akan tetapi, dia mengaku belum mendapatkan arahan lebih lanjut ihwal wacana penyetopan ekspor timah murni batangan atau ingot.
“Betul [bijih timah tidak diekspor oleh Indonesia],” kata Cecep kepada Bloomberg Technoz, Kamis (19/2/2026).
BPS melaporkan sepanjang Januari hingga Desember 2025 ekspor timah murni batangan atau ingot tercatat sebesar 52.416 ton.
Singapura tercatat sebagai negara utama ekspor timah Indonesia dengan besaran 12.298 ton. Posisi kedua ditempati China, dengan total ekspor ke negara itu sebesar 9.886 ton.
Posisi ketiga, ditempati oleh Korea Selatan dengan total ekspor sebanyak 8.716 ton. Kemudian, India dengan total ekspor sebanyak 5.035 ton. Sementara di posisi kelima, ditempati jepang dengan total ekspor 4.389 ton.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan saat ini pihaknya tengah mengkaji kemungkinan untuk menghentikan ekspor timah.
Rencana itu sebagai bagian dari komitmen pemerintah untuk mendorong hilirisasi mineral logam di dalam negeri.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit, dan tahun ke depan kita akan mengkaji beberapa komoditas lain termasuk timah, enggak boleh lagi ekspor barang mentah,” kata Bahlil dalam panel Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Bahlil meminta pelaku usaha untuk investasi lebih intens pada sisi industri hilir timah nantinya. Dia berharap nilai tambah dari hilirisasi timah itu dapat berlipat ganda.
“Silakan teman-teman membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” kata Bahlil.
Manuver penghentian ekspor timah itu ikut didorong potensi hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (RRE) yang belakangan menjadi perhatian pemerintah.
Adapun, LTJ terkandung dalam salah satu mineral ikutan timah, yakni monasit yang terdiri dari unsur dominan seperti cerium, lanthanum, neodymium, yttrium, dan praseodimium.
LTJ juga mengandung thorium yang dapat diolah menjadi sumber energi untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Menurut Bahlil, keputusan pelarangan ekspor tersebut dilakukan karena logam tanah jarang merupakan komoditas strategis yang harus dikuasai oleh negara.
(azr/wdh)





























