Logo Bloomberg Technoz

Meskipun begitu, Bahlil menegaskan masih terdapat beberapa aspek yang perlu diselesaikan dengan ExxonMobil sebelum perpanjangan kontrak dilakukan, utamanya terkait kontrak bagi hasil cost recovery.

“Namun ada beberapa hal yang harus kita clear-kan, termasuk di dalamnya adalah sharing cost recovery antara pendapatan negara dan pendapatan KKKS, sebentar lagi akan selesai,” tegas dia.

Bahlil mengungkapkan perpanjangan kontrak tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi bilateral antara pihak swasta dan pemerintah AS dengan pemerintah Indonesia.

“Ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari komunikasi bilateral kita antara pihak swasta yang ada di sini maupun dengan Pemerintah Indonesia, termasuk di dalamnya adalah berkomunikasi dengan Pemerintah Amerika Serikat,” ungkap dia.

Sebelumnya, Bahlil sempat mengungkapkan lifting minyak Blok Cepu garapan ExxonMobil bergerak ke rata-rata 175.000 bph awal tahun ini.

Posisi lifting minyak Blok Cepu itu lompat dari rata-rata sepanjang 2025 di kisaran 150.000 bph.

“Sekarang mereka [Exxon] sudah bisa mencapai peak-nya itu 180.000 bph, rata-rata mereka sudah 175.000 barel,” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Bahlil mengatakan peningkatan lifting minyak dari Blok Cepu itu bakal ikut menopang target lifting nasional saat ini.

Dia mengatakan kementeriannya terus berkomunikasi dengan manajemen ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ihwal upaya peningkatan lifting dari blok tersebut.

“Jadi nggak menemukan sumur baru, sumur lama,” kata Bahlil.

Sebelumnya, pemerintah bersama dengan EMCL mendorong proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) untuk mengerek lifting dari Blok Cepu.

Proyek itu mencakup pengeboran empat sumur produksi baru, dilaksanakan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia menggunakan rig canggih buatan dalam negeri.

Program peningkatan produksi migas ini dimulai pada 2024 dengan target penyelesaian pada 2026.

Proyek itu diharapkan dapat mengerek lifting hingga 30.000 barel per hari. Adapun, nilai investasi dari proyek peningkatan lifting lapangan Banyu Urip, Blok Cepu diperkirakan mencapai US$4 miliar.

“ExxonMobil sangat berkomitmen dan loyal dengan Indonesia untuk berpartisipasi dalam ketahanan energi nasional,” kata Presiden ExxonMobil Indonesia Wade Floyd saat seremoni peresmian proyek secara hibrida dari Lapangan Banyu Urip tahun lalu.

Cadangan migas di Blok Cepu ditemukan sejak 2001. Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani pada 17 September 2005 dengan EMCL sebagai operator.

Anak usaha ExxonMobil Corporation itu memegang 45% saham partisipasi, bersama Pertamina EP Cepu yang memegang 45% saham dan Badan Kerja Sama Blok Cepu (BKS) dengan 10% saham.

Rencana pengembangan lapangan disetujui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 15 Juli 2006. Cadangan minyak di Lapangan Banyu Urip saat itu diperkirakan sebesar 450 juta barel.

(ell)

No more pages