Laporan ini juga mencatat terjadinya penurunan dalam neraca pendapatan primer lantaran pembayaran imbal hasil atas investasi langsung yang meningkat dari US$6,2 miliar menjadi US$7,1 miliar.
Hal ini dapat mencerminkan karakter dari model pertumbuhan ekonomi berbasis investasi asing langsung (FDI), yang sebelumnya menopang pertumbuhan kini mulai menghasilkan arus keluar dalam bentuk repatriasi keuntungan.
Tekanan Bagi Rupiah
Dalam struktur NPI yang semakin ditopang oleh inflow finansial, ruang pelonggaran moneter agaknya menjadi lebih makin sempit dan terbatas.
Cadangan devisa Indonesia memang masih berada di atas standar kecukupan internasional US$154,6 miliar setara dengan 6,1 pembayaran impor dan utang luar negeri dan dapat memberikan bantalan jangka pendek.
Namun, dalam rezim ekonomi global dengan mobilitas modal yang tinggi, stabilitas nilai tukar lebih ditentukan oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan dan risiko eksternal daripada oleh posisi cadangan semata.
Tak heran jika pada periode yang sama nilai tukar rupiah bergitu rentan. Pada triwulan IV 2025 rupiah mengalami penyusutan sebanyak 1,05% sejak Oktober hingga Desember 2025. Terakhir kali rupiah berada di bawah Rp16.500-an/US$ adalah di bulan September.
Setelah itu, nilai tukar rupiah bergerak volatil dengan kecenderungan melemah, terombang-ambing oleh sentimen akibat ketidakpastian geolpolitik yang membuat arus modal asing keluar-masuk. Jika ditarik dari September hingga Desember 2025, volatilitas rupiah itu telah mencatatkan pelemahan sebesar 2,08%.
Dalam kondisi ideal, stabilitas nilai tukar ditopang oleh surplus transaksi berjalan yang mencerminkan daya saing ekspor dan kekuatan fundamental sektor riil. Namun ketika defisit transaksi berjalan harus dibiayai oleh arus masuk investasi portofolio, stabilitas eksternal menjadi semakin sensitif terhadap dinamika pasar keuangan global.
Ketergantungan pada inflow portofolio secara inheren meningkatkan eksposur terhadap perubahan yield global, terutama imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dalam kondisi suku bunga global yang cenderung bertahan tinggi lebih lama (higher-for-longer), selisih imbal hasil antara aset domestik dan global menjadi faktor kunci dalam menentukan arah aliran modal. Setiap penyempitan selisih tersebut, baik akibat penurunan suku bunga domestik maupun kenaikan yield global, dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik.
Dalam struktur NPI seperti ini, maka volatilitas nilai tukar menjadi lebih erat terkait dengan sentimen risiko global. Implikasinya terhadap nilai tukar rupiah cukup signifikan seperti yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, hingga sekarang
Sektor Riil Menyusut
Data NPI ini juga menunjukkan kondisi pelemahan fundamental sektor riil yang semakin dalam. Surplus yang tersisa dalam NPI 2025 agaknya tidak lahir dari daya saing ekspor atau kekuatan perdagangan, melainkan disangga oleh masuknya modal finansial dari luar negeri.
Sektor riil, yang sebelumnya pada periode booming komoditas masih menjadi bantalan stabilitas eksternal, sepertinya mulai kehilangan momentum. Adanya penurunan harga komoditas ditambah kondisi perekonomian global sedang tidak baik-baik saja yang menyebabkan permintaan dari negara-negara yang selama ini jadi tujuan ekspor pun menurun.
Sepanjang 2025, neraca perdagangan minyak dan gas tercatat mengalami defisit US$19,5 miliar. Ekspor dan impor gas menurun menjadi US$6,9 miliar pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya US$8 miliar. "[Kondisi ini] didorong oleh penurunan harga di tengah peningkatan konsumsi domestik," sebut laporan BI.
Surplus neraca barang, yang pada triwulan III 2025 masih tercatat US$16,1 miliar menyusut menjadi US$10,2 miliar. Penurunan lebih dari US$5 miliar dalam satu periode triwulan ini menggambarkan kontribusi perdagangan terhadap keseimbangan eksternal makin melemah.
Pada saat yang sama, defisit neraca jasa tetap dalam tren membesar dan mencapai sekitar US$4,9 miliar. Ini terutama dipicu oleh kenaikan biaya transportasi dan impor freight yang meningkat seiring dengan kebutuhan input produksi domestik
Di sisi lain, ekspor penerimaan jasa perjalanan dari wisatawan mancanegara (wisman) menurun. Pada periode ini, ekspor jasa perjalanan tercatat turun 11,63% menjadi US$3,8 miliar dari US$4,3 miliar pada triwulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi lantaran jumlah kunjungan wisman menurun menjadi 4 juta orang dari 4,4 juta orang pada periode sebelumnya.
Kabar baiknya wisman secara tahunan tercatat naik menjadi 15,4 juta kunjungan dari 13,9 juta kunjungan pada tahun sebelumnya. Namun, lantaran ada peningkatan defisit jasa bisnis lainnya serta jasa telekomunikasi membuat neraca perdagangan tetap defisit sebesar US$19,8 miliar, lebih tinggi dari periode tahun 2024 sebesar US$18,5 miliar.
Hingga, secara keseluruhan tahun 2025, neraca perdagangan jasa mencatat defisit US$19,8 miliar lebih tinggi dari tahun 2024 sebesar US$18,5 miliar.
Dukungan Pahlawan Devisa
Di tengah menyusutnya surplus perdagangan dan meningkatnya defisit pendapatan primer, stabilitas eksternal Indonesia justru terbantu dengan sumber devisa yang selama ini sering kali luput dari sorotan: remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI), atau yang kerap disebut sebagai pahlawan devisa.
Penerimaan transfer personal dari PMI tetap mencatat surplus dan memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan sekunder dalam transaksi berjalan dan tercatat naik menjadi US$4,5 miliar dari periode sebelumnya US$4,4 miliar. Dan secara keseluruhan tahun 2025 neraca pendapatan sekunder ini tercatat naik 13,56% menjadi US$6,7 miliar dari US$5,9 miliar.
"Kenaikan tersebut dipengaruhi bertambahnya jumlah PMI yang bekerja di luar negeri yaitu 4,2 juta orang dari sebelumnya 4,1 juta orang pada triwulan III 2025," sebut Laporan BI.
Sejalan dengan itu, pembayaran remitansi oleh Tenaga Kerja Asing (TKA) juga naik menjadi US$2,6 miliar dari sebelumnya US$2,5 miliar.
Sebagai catatan, sekitar 76% dari jumlah PMI bekerja di wilayah Asia Pasifik dengan porsi terbesar di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Sementara sisanya, 23,1% bekerja di wilayah Timur Tengah dan Afrika dengan porsi terbesar di Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab.
(dsp/aji)





























