Sektor Riil Terpukul, Neraca Pembayaran RI Tergantung Uang Panas
Redaksi
21 February 2026 03:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya defisit transaksi berjalan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan IV 2025. NPI mencatatkan suprlus US$ 6,1 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya defisit US$ 6,4 miliar.
Melansir laporan BI, terlihat bahwa saat ini struktur eksternal Indonesia tercatat mengarah pada peningkatan ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek alias hot money (uang panas). "Kinerja NPI tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial," sebut Laporan BI, Jumat (20/2/2026).
Data tersebut menunjukkan bahwa surplus NPI yang sebesar US$7 miliar pada triwulan IV 2025 tidak lagi ditopang oleh kekuatan sektor riil, melainkan oleh transaksi modal dan finansial. Transaksi modal dan finansial pada triwulan IV 2025 tercatat surplus US$8,3 miliar (2,3% dari PDB), setelah pada periode sebelumnya terkontraksi US$8 miliar (2,1% dari PDB).
Pada saat yang sama, transaksi berjalan kembali mencatat defisit, seiring menyusutnya surplus neraca barang dan meningkatnya defisit pendapatan primer akibat pembayaran dividen kepada investor asing. Transaksi berjalan kembali mencatat defisit sebesar US$2,5 miliar (0,7% dari PDB) pada triwulan IV, setelah mencatatkan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar US$4 miliar (1,1% dari PDB).
Defisit yang terjadi seiring menyusutnya surplus neraca perdagangan, dan jasa serta meningkatnya defisit pendapatan primer akibat repatriasi dividen investor asing. Defisit pada pos ini meningkat hingga sekitar US$9,6 miliar pada triwulan IV 2025. Angka ini mencerminkan meningkatnya pembayaran dividen dan imbal hasil investasi kepada investor asing yang telah menanamkan modalnya di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.






























