Logo Bloomberg Technoz

Ia menyebutkan, terdapat sekitar 11 ribu hektare tanaman cabai rawit merah yang saat ini berada dalam fase vegetatif dan awal panen. Namun, panen yang berlangsung sekarang masih panen awal, sehingga pasokan belum optimal. 

“Panen sekarang masih panen pertama dan kedua. Panen raya itu biasanya di panen kelima, sekitar 25 hari lagi,” kata Hamid.

Dengan perhitungan tersebut, panen raya diperkirakan terjadi sekitar akhir Ramadan atau menjelang Lebaran. Setelah itu, pasokan cabai rawit merah diproyeksikan melimpah, sehingga harga berpotensi turun signifikan.

Untuk jangka pendek, pemerintah kata dia juga tengah berupaya menekan harga dengan mendatangkan pasokan dari daerah lain, seperti Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta. Jika pasokan bisa masuk sekitar 4–5 ton per hari, harga dinilai cukup aman dan berpeluang turun ke kisaran Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Hamid juga mengapresiasi langkah pemerintah yang membantu biaya distribusi, sehingga harga cabai dari daerah produsen dapat dijual di Pasar Induk tanpa kenaikan signifikan akibat ongkos angkut.

"Pemerintah sudah mulai mencari. Sekarang sedang di cari [pasokan cabai]. Janjinya minggu ini, dalam minggu ini akan pasok," kata Hamid.

Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengamini fluktuasi harga cabai dipicu faktor cuaca, khususnya curah hujan tinggi yang menghambat aktivitas panen. Bapanas menegaskan harga cabai tinggi bukan karena nihil stok.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas,I Gusti Ketut Astawa memastikan ketersediaan cabai di tingkat tanaman siap panen mencukupi.

"Kita bukan tidak ada barang. Barang sangat banyak di standing crop-nya, tapi tidak ada yang berani metik karena hujan," tutur Ketut dalam keterangan resminya, dikutip Kamis kemarin.

(ell)

No more pages