Logo Bloomberg Technoz

Modus penipuan yang sering terjadi adalah pelaku berpura pura menjadi teman atau pihak WhatsApp dan meminta kode verifikasi SMS. Jika kode tersebut diberikan, akun bisa langsung dibajak.

Dengan 2FA aktif, meskipun pelaku mengetahui kode SMS, mereka tetap tidak dapat mengakses akun tanpa PIN tambahan yang hanya diketahui pemilik akun.

2. Atur Privasi Informasi Pribadi

WhatsApp menyediakan pengaturan privasi untuk mengontrol siapa yang dapat melihat Last Seen, status online, foto profil, info About, hingga pembaruan Status.

Jika disetel ke Everyone, siapa pun yang memiliki nomor Anda termasuk orang asing dapat memantau aktivitas tersebut. Membatasi akses hanya untuk kontak atau memilih Nobody dapat mengurangi risiko stalking dan rekayasa sosial.

Semakin sedikit informasi yang terbuka ke publik, semakin kecil peluang akun dimanfaatkan untuk aksi penipuan.

3. Batasi Undangan Grup

Banyak pengguna tiba tiba dimasukkan ke dalam grup asing yang berisi spam atau tautan mencurigakan. Untuk mencegah hal ini, atur privasi grup agar hanya kontak yang bisa menambahkan Anda.

Pengaturan ini penting karena pelaku kerap menyebarkan tautan phishing atau investasi palsu melalui grup acak yang berisi ratusan nomor.

Dengan membatasi akses tersebut, potensi paparan terhadap penipuan massal dapat ditekan secara signifikan.

Fitur Tambahan untuk Perlindungan Maksimal

Ilustrasi Enkripsi End-to-End di WhatsApp (Diolah)

4. Aktifkan Notifikasi Keamanan

WhatsApp menyediakan notifikasi perubahan kode keamanan enkripsi. Saat fitur ini diaktifkan, pengguna akan mendapat pemberitahuan jika kode keamanan kontak berubah, misalnya karena pergantian perangkat atau instal ulang aplikasi.

Perubahan tersebut umumnya normal, tetapi jika terjadi tanpa sepengetahuan Anda, hal itu bisa menjadi tanda adanya akses tidak sah.

5. Kunci Aplikasi dengan Biometrik

Fitur kunci aplikasi memungkinkan WhatsApp hanya dapat dibuka menggunakan sidik jari atau pemindai wajah.

Langkah ini sangat berguna ketika ponsel dipinjam orang lain atau hilang dalam kondisi tidak terkunci. Meski perangkat sudah terbuka, WhatsApp tetap tidak dapat diakses tanpa autentikasi biometrik.

6. Gunakan Pesan Sementara dan View Once

Untuk percakapan sensitif, aktifkan fitur Disappearing Messages agar pesan terhapus otomatis setelah periode tertentu.

Selain itu, manfaatkan fitur View Once untuk foto dan video agar hanya bisa dilihat satu kali tanpa tersimpan di galeri. Cara ini meminimalkan risiko penyalahgunaan konten pribadi jika akun diretas.

7. Amankan Cadangan Chat dengan Enkripsi

Banyak pengguna belum menyadari bahwa cadangan chat di layanan cloud seperti Google Drive atau iCloud secara default tidak terenkripsi end to end.

Untuk itu, aktifkan enkripsi cadangan dengan kata sandi atau kunci khusus. Dengan perlindungan tambahan ini, meskipun akun cloud diretas, isi percakapan tetap tidak dapat dibaca pihak lain.

Kesadaran Digital Jadi Kunci

Lonjakan kejahatan siber menuntut pengguna untuk lebih waspada dalam menjaga keamanan akun digital. Mengaktifkan seluruh fitur perlindungan yang tersedia menjadi langkah preventif yang tidak boleh diabaikan.

Keamanan bukan hanya tanggung jawab penyedia platform, tetapi juga pengguna. Dengan memanfaatkan seluruh fitur keamanan WhatsApp secara optimal, risiko pembajakan akun dapat diminimalkan secara signifikan.

(seo)

No more pages