Logo Bloomberg Technoz

Risiko Pelemahan Masih Mengintai, Rupiah Menunggu Katalis Baru

Tim Riset Bloomberg Technoz
11 February 2026 08:23

Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang rupiah dan dolas AS di salah satu bank di Jakarta, Senin (1/12/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah beberapa hari terakhir berada di antara risiko global dan harapan pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian domestik dan adanya kepastian arah kebijakan fiskal lebih lanjut. 

Kemarin, rupiah menguat 0,11% ke Rp16.783/US$ kala penutupan perdagangan kontrak Non-Deliverable Forwards (NDF). Namun pagi ini, Rabu (11/2/2026), rupiah kembali susut 0,02% dan tak berselang lama melemah 0,05% ke Rp16.791/US$. 

Rupiah saat ini berada dalam posisi menanti katalis baru. Dari sisi eksternal, para pejabat The Fed menyiratkan kebijakan hawkish dengan menahan suku bunga acuan lebih lama.


Penundaan pemangkasan suku bunga dilakukan dengan harapan agar bank sentral AS dapat mencerna data ekonomi secara komprehensif dan mendalam, pasca rilisnya data ekonomi AS yang mencatatkan pelemahan penjualan ritel. 

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel nyaris tidak berubah pada Desember setelah naik 0,6% pada November. Penjualan inti (control group), yang menjadi komponen perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB), justru turun 0,1%, memicu potensi revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025.