Logo Bloomberg Technoz

Pelaku pasar juga sedang menanti laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini. Konsensus memperkirakan pertambahan penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) Januari sekitar 65.000 dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,4%. Data tersebut dipandang krusial untuk menentukan arah sentimen risiko jangka pendek.

Dari domestik, dinamika pasar yang masih mencermati outlook kredibilitas Indonesia, terutama terkait policy predictability alias kepastian kebijakan serta kesinambungan arah fiskal-moneter. Sentimen ini ikut mendorong pelemahan rupiah setelah sesi siang pada perdagangan kemarin. Namun, indikasi risk-on jangka pendek cukup membantu menahan pelemahan lebih ekstrem.

Begitu juga dengan respons kebijakan dari Bank Indonesia yang menunjukkan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar. Akan tetapi, pasar masih menunggu sinyal yang lebih konsisten untuk mengurangi premi risiko Indonesia. Selama faktor ini belum terjawab, nampaknya ruang penguatan rupiah mungkin masih akan terbatas.

Alhasil, kemarin rupiah spot bertahan di Rp16.800/US$ pada penutupan perdagangan, posisi ini kuat dari pergerakan sehari sebelumnya di rentang Rp16.803-Rp16.860/US$. Penguatan itu juga ditopang oleh pelemahan dolar AS yang susut 0,84% ke level 96,81 saat penutupan perdagangan kemarin. 

Pergerakan indeks dolar AS year to date telah susut sebanyak 1,57% menjadi 96,79. (Bloomberg)

Pelemahan dolar AS tersebut sempat membuka ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas, termasuk rupiah. Namun ruang penguatan itu cenderung sempit dan mudah berbalik arah. Indeks dolar AS pada sesi berikutnya kembali menguat 0,18% sebelum terkoreksi tipis 0,02% ke level 96,79, mengindikasikan sikap pasar yang belum sepenuhnya melepaskan posisi defensif.

Sementara dari pasar Asia, hari ini mata uang yang sudah dibuka bergerak cukup beragam. Di zona hijau, yen Jepang memimpin penguatan sebesar 0,18%, won Korea Selatan menguat tipis 0,04%, dolar Hong Kong 0,01%.

Dari zona merah ada baht Thailand tergerus 0,11%, disusul ringgit Malaysia melemah 0,05%, dolar Singapura dan yuan offshore China juga susut masing-masing 0,01%. 

Dari pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 6 basis poin (bps) ke 4,14%, level terendah dalam sekitar satu bulan. Penurunan yield ini mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Federal Reserve pada 2026, dengan dua kali penurunan suku bunga. 

Sementara dari pasar surat utang domestik kenaikan premi risiko di pasar domestik mengerek imbal hasil di aset SUN. Hal ini terlihat dari kenaikan imbal hasil SUN tenor 10 tahun yang naik sebesar 36 bps sejak awal tahun (year-to-date/ytd) dari 6,08% menjadi 6,44%..

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun, sepanjang tahun naik 36 bps dari 6,08% menjadi 6,44%. (Bloomberg)

Lantas, bagaimana nasib rupiah hari ini?

Agaknya hari ini rupiah masih akan bergerak dalam zona konsolidasi sambil menunggu katalis baru, dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Rupiah diperkirakan akan bergerak di rentang Rp16.780-Rp16.850/US$ di tengah minimnya katalis baru.

Ruang penguatan masih terbuka jika sentimen global mendukung dan dolar AS kembali tertekan, akan tetapi penguatan tersebut cenderung terbatas dan mudah berbalik arah. Tanpa adanya katalis eksternal yang jelas dan tanpa adanya persepsi risiko domestik yang membaik, rupiah mungkin masih akan bergerak di mode defensif seperti beberapa hari terakhir ini. 

(dsp/aji)

No more pages