Hingga Pekan Kedua 2026, Rupiah Jadi Terlemah Ketiga di Asia
Tim Riset Bloomberg Technoz
15 January 2026 12:41

Bloomberg Technoz, Jakarta - Belum genap satu bulan memasuki 2026, nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menghadapi tantangan berat. Menguatnya indeks dolar AS membuat mata uang di Benua Kuning melemah, menyusul terjadinya ketidakstabilan geopolitik global.
Pada Kamis (15/1/2026), hampir semua nilai tukar mata uang Asia bertekuk lutut di hadapan dolar AS. Sepanjang perdagangan 2026 atau year-to-date (ytd), won Korea Selatan yang mengalami depresiasi paling dalam sebesar 2,17%, disusul yen Jepang 1,15%, dan rupiah tergerus 1,07% di posisi ketiga terbawah.
Sementara dari zona hijau hanya ada ringgit Malaysia, dan renminbi China yang menguat masing-masing 0,27%.
Tekanan eksternal datang secara berlapis dan menghantam mata uang Asia di awal tahun ini. Dari Timur Tengah demonstrasi besar di Iran yang mengarah pada revolusi memicu lonjakan premi risiko di pasar negara berkembang.
Padahal, alarm risk-off pelaku pasar belum mati lantaran konflik yang terjadi antara Venezuela dan AS. Di saat bersamaa, kebijakan luar negeri AS di bawah Presiden Donald Trump terlihat semakin transaksional dengan terus menabuh genderang perang dagang dalam bentuk ancaman tarif.































