Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Kembali Tertekan, Investor Ramai-ramai Lepas SUN

Tim Riset Bloomberg Technoz
02 March 2026 16:05

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini semakin menjauh dari tren penguatannya, lantaran kondisi geopolitik yang makin memanas. 

Senin sore (2/3/2026), rupiah spot ditutup melemah 0,54% ke level Rp16.861/US$. Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia semakin menguat hingga 0,85% dan saat ini bertengger di posisi 98,43. 

Alarm risk-off yang menyala membuat investor berduyun-duyun meninggalkan aset di pasar emerging markets. Hampir semua mata uang Asia kompak melemah, hanya dolar Hong Kong yang konsisten di zona hijau sejak pagi tadi, meski penguatannya tipis sekali. 

Mata uang Asia kompak melemah lantaran dolar AS menguat pada Senin sore (2/3/2026). (Bloomberg).

Konflik yang berkepanjangan dan eskalasi yang disertai kenaikan harga minyak dunia diproyeksikan akan membebani mata uang Asia. Sebab, seperti diketahui sebagian besar negara di kawasan Asia merupakan pengimpor minyak mentah dunia. 

Lonjakan harga minyak juga dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi yang dapat berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Jika harga minyak masih bertahan tinggi, tekanan eksternal terhadap rupiah akan terus terjadi.