Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga setelah rilis data-data ekonomi negeri AS yang terlihat solid, semakin memperkuat daya tarik dolar AS. Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang sempat menguat di akhir 2025, kini memudar. 

Tekanan bagi Rupiah

Bagi rupiah, tekanan eksternal ini menimpa saat ruang kebijakan domestik tidak cukup luas untuk menangkal kondisi ini. Defisit fiskal yang melebar hingga 2,92% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, bahkan diprediksi ekonom dan bankir akan melampaui ambang batasnya 3% PDB, membuat investor berhitung risiko lebih cermat.

Apalagi, ketergantungan Indonesia terhadap arus modal asing membuat rupiah lebih sensitif terhadap sentimen global. Tak heran jika rupiah saat ini menempati posisi ketiga dalam klasemen pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS.

Sejauh ini Bank Indonesia (BI) telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi moneter. Namun harus diakui bahwa kebijakan moneter yang dilakukan di tengah gejolak ketidakstabilan geopolitik seperti ini mungkin hanya mampu menahan volatilitas, membuat rupiah defensif tapi tak cukup kuat untuk membalik tren. 

Fundamental Ekonomi

Pelemahan mata uang ini cepat atau lambat akan berdampak terhadap sektor riil. Kenaikan biaya impor, tekanan pada harga energi juga pangan, yang dapat mengarah pada inflasi. 

Bagi Indonesia, tantangan terberatnya adalah memperkuat fondasi ekonomi domestik agar lebih tahan terhadap guncangan global, salah satunya dengan memperkuat basis produksi dalam negeri dengan membangun industrinya kembali serta memperkuat struktur ekspor. Saat ini, struktur ekspor Indonesia masih ditopang oleh produk berbasis komoditas yang juga rentan terhadap fluktuasi harga global. 

Sebagai gambaran, Indonesia cenderung tertinggal dari negara Asia lainnya dalam konteks pengembangan industri yang dapat memperkuat fondasi perekonomian domestik.

Melansir laporan Panin Sekuritas, investasi asing di negara ASEAN cenderung tumbuh ditopang oleh sektor berteknologi tinggi dan terintegrasi dalam rantai pasok global.

"Dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Vietnam, Indonesia tertinggal dalam banyak indikator daya saing," tulis laporan Is Indonesia Losing Its Investment Appetite? yang rilis kemarin (14/1/2026).  

Laporan itu juga menyebut, aliran investasi dalam bentuk Foreign Direct Investment (FDI) bernilai tambah tinggi kesulitan masuk sehingga mengurangi prospek pertumbuhan investasi jangka panjang di Indonesia. Ini terjadi lantaran kebijakan industri dalam negeri belum fokus dan kurang konsisten dalam eksekusi. 

Meski tak menutup mata bahwa Indonesia juga masih mencatatkan arus modal asing yang relatif tinggi di kawasan, tetapi laporan tersebut mengatakan investasi yang masuk pada 2024 sebesar US$13,56 miliar mengalir ke industri logam dasar. 

"Investasi ini konsisten dengan ekspansi hilirisasi berbasis sumber daya alam, yang belum sepenuhnya mencerminkan transformasi menuju industri berteknologi menengah-tinggi. Hal ini sangat kontrak bila dibandingkan dengan negara peers-nya seperti Vietnam dan Thailand," papar laporan tersebut.

(riset/aji)

No more pages