Menakar Dampak Pelemahan Rupiah dalam Kehidupan Sehari-Hari
Tim Riset Bloomberg Technoz
14 January 2026 15:31

Bloomberg Technoz, Jakarta - Dua pekan menjalani 2026, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih mengkhawatirkan. Sejumlah faktor eksternal dan domestik menekan rupiah dalam durasi cukup panjang, selama lebih dari delapan hari, tanpa penguatan yang berarti.
Meski sore ini rupiah ditutup menguat 0,03%, tetapi posisinya masih hampir menyentuh Rp 16.900/US$. Mengutip data Bloomberg, rupiah sepanjang tahun ini sudah tergerus 1,01%, berada di posisi ketiga terlemah setelah won Korea Selatan 2,59% dan yen Jepang 1,58%.
Pelemahan nilai tukar rupiah pun menjadi sorotan bukan hanya pelaku pasar tapi juga ekonom. Mereka mencermati kondisi rupiah dan khawatir pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan merembes langsung ke sektor riil dan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika rupiah tertekan terhadap dolar AS, dampaknya tidak berhenti di pasar valuta asing semata, pelemahan ini akan terus menjalar ke akar rumput. Mempengaruhi harga pangan, biaya produksi, hingga daya beli rumah tangga kelas menengah dan bawah.
Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan proteksionisme AS, mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Investor kembali memilih aset aman (safe haven), meninggalkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.





























