Logo Bloomberg Technoz

Dibuka Menguat, Rupiah Ditopang Intervensi Bank Sentral

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 January 2026 09:36

Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan uang dolar AS dan rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan pagi ini, Kamis (15/1/2026). Setelah dua pekan tergerus 1% lantaran sentimen yang disebabkan volatilitas geopolitik dan kondisi perekonomian domestik. 

Pada perdagangan spot hari ini, rupiah dibuka menguat 0,42% ke Rp16.790/US$, lalu kemudian tergelincir 0,03% dan kembali ke Rp16.865/US$. Meski indeks dolar AS juga menguat 0,05% ke posisi 99.105, beberapa mata uang di pasar Asia berhasil mencatatkan posisinya di zona hijau pagi ini. 

Nilai tukar mata uang Asia Kamis pagi (15/1/2026). Bloomberg

Menguatnya mata uang Asia lantaran intervensi masing-masing bank sentral di pasar. Melansir informasi Bank Indonesia, kemarin bank sentral ini melakukan sejumlah operasi moneter seperti lelang Sukuk Valas BI senilai US$181,5 juta, Reverse Repo SBN senilai Rp65.000 miliar, menyerap likuiditas dari perbankan melalui mekanisme Pasar Uang Sekuritas BI senilai Rp511 miliar. Sementara dalam lelang Term Deposit Valas, dan Domestic Non-Delivery Forward tidak ada penawaran yang masuk.  


Mengutip Bloomberg News, selain bank sentral Indonesia, bank sentral India juga melakukan penjualan dolar di pasar mata uang untuk mendongkrak nilai tukar rupee.

Dari global, ketidakstabilan geopolitik masih membayangi pergerakan mata uang di pasar negara berkembang. Ketidakpastian ini semakin memperkuat posisi tawar dolar AS sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, yang memiliki ketergantungan tinggi pada arus modal asing.