Konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ditambah kebijakan AS yang makin agresif, membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk di pasar Asia.
"Komitmen BI untuk memastikan pergerakan rupiah yang terjaga dan stabilitas nilai tukar patut disambut dengan baik. Namun langkah tersebut belum tentu mampu menahan kenaikan USD/IDR apabila dolar AS kembali menguat," kata Wee Khoon Chong, Senior Strategist untuk APAC Market di Bank of New York, seperti dikutip Bloomberg News.
Stabilisasi nilai tukar yang bertumpu pada intervensi bank sentral umumnya tak dapat menjadi solusi jangka panjang. Operasi moneter memang efektif dalam meredam volatilitas jangka pendek, dengan konsekuensi biaya likuiditas yang menyertai. Ketergantungan berlebih pada instrumen ini juga berpotensi menggerus ruang kebijakan moneter di tengah kebutuhhan pembiayaan fiskal yang makin besar.
Di sisi domestik, pasar masih mencermati fundamental ekonomi Indonesia, terutama terkait defisit fiskal yang melebar. Jika tak ada penguatan dari sisi sektor riil dan peningkatan kepercayaan dari investor, stabilitas nilai tukar rupiah akan mudah goyah.
(riset/aji)






























