Pelaku pasar telah merespons laporan tersebut sejak Jumat dengan ekspektasi bahwa kebijakan ekspansif Takaichi akan mendapat dukungan lebih kuat jika pemilu lebih awal digelar. Nilai yen melemah ke level terendah terhadap dolar AS sejak Juli 2024 pada Selasa pagi, sementara pasar saham menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 30 tahun menyentuh rekor tertinggi.
Namun, pemungutan suara kilat juga mengandung risiko. Meski pemimpin baru yang memanfaatkan lonjakan dukungan dengan menggelar pemilu dini merupakan strategi lazim LDP, langkah serupa pernah berujung kegagalan bagi pendahulu Takaichi, Shigeru Ishiba. Pemilu yang ia gelar pada musim gugur 2024 justru membuat koalisi penguasa kehilangan mayoritas.
Untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, LDP juga akan menghadapi pemilu tanpa mitra koalisi yang memiliki rekam jejak kuat dalam menggerakkan pemilih di seluruh negeri. Mitra lamanya, Komeito, selama lebih dari dua dekade memberikan dukungan akar rumput dan organisasi dalam setiap pemilu.
Komeito keluar dari koalisi pada Oktober lalu, memaksa Takaichi mencari dukungan dari partai lain. Sekutu baru LDP, Partai Inovasi Jepang, memiliki basis kuat di wilayah sekitar Osaka, namun sejauh ini dinilai kurang efektif dalam meraih suara di luar kawasan tersebut.
(bbn)





























