Cadangan devisa sempat tergerus tiga bulan beruntun. Pada Juli, cadangan devisa turun 0,38% menjadi US$151,98 miliar, berlanjut pada Agustus 0,84% menjadi US$150,70 miliar, dan September tergerus 1,31% menjadi US$148,73 miliar.
Pelemahan cadangan devisa pada pertengahan 2025 disebabkan oleh kombinasi tekanan global dan kebutuhan stabilisasi domestik. Penguatan dolar AS juga terjadi seiring sikap hawkish bank sentral AS, adanya lonjakan imbal hasil US Treasury, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global memaksa bank sentral negara berkembang, termasuk Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Pemulihan cadangan devisa pada November dan Desember ini jadi sinyal penting. Bukan sekadar adanya perbaikan aliran devisa pemerintah lewat pembiayaan global dan penerimaan negara, tapi juga menunjukkan ruang kebijakan atau policy buffer kembali melebar bagi BI.
Tekanan dari Rupiah
Namun, penguatan dua bulan beruntun ini bukan berarti tanpa tantangan. Memasuki 2026, lanskap global masih penuh dengan ketidakpastian, seperti ketidakjelasan arah suku bunga bank sentral AS, eskalasi geopolitik yang terjadi antara Venezuela dan AS berpotensi memicu kembali volatilitas arus modal. Dalam konteks itu, cadangan devisa jadi instrumen penting sebagai jangkar kepercayaan bagi stabilitas makroekonomi.
Membuka lembar tahun baru, rupiah belum menunjukkan perlawanan terhadap dolar AS. Dalam lima hari perdagangan tahun ini, rupiah masih tergerus berada di posisi Rp16.794/US$.
Kondisi cadangan devisa saat ini memang memberikan sedikit kelonggaran bagi BI untuk melakukan upaya stabilisasi rupiah yang sedang melemah.
Begitu juga dengan faktor musiman di akhir tahun berkontribusi terhadap kenaikan cadangan devisa, lantaran secara historis eksportir melakukan repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk memenuhi kewajiban royalti sumber daya alam.
Pembiayaan Utang
Cadangan devisa tahun ini dikontribusikan oleh penerbitan sukuk global pemerintah dan penarikan pinjaman pemerintah. Pada November, pemerintah menerbitkan sukuk global sebesar US$2 miliar, yang terdiri dari US$1,1 miliar untuk tenor 5 tahun, dan US$0,9 miliar untuk tenor 10 tahun.
Pada Desember, pemerintah memenangkan lelang Surat Utang Negara (SUN) sebanyak dua kali pada 2 dan 16 Desember masing-masing senilai Rp25 tirliun dan Rp16 miliar. Ditambah, pada 9 Desember pemerintah juga menerbitkan SBSN senilai Rp8 triliun.
Hal yang perlu diwaspadai adalah ketergantungan pada pembiayaan utang dan rentan terhadap pembalikan arus modal. Agar cadangan devisa lebih solid dan berkelanjutan secara fundamental, Indonesia perlu melakukan peningkatan ekspor bernilai tambah dan perbaikan neraca perdagangan, serta memperbesar arus investasi asing (FDI).
(riset/aji)






























