Sudah di atas Rp16.800/US$, Rupiah Terlemah dalam 8 Bulan
Tim Riset Bloomberg Technoz
09 January 2026 11:37

Bloomberg Technoz, Jakarta - Laju rumah dalam perdagangan hari ini (9/1/2026) bukan hanya tertahan volatilitas global, tetapi juga kondisi ekonomi domestik. Rilisnya data-data ekonomi dan rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menambah beban bagi rupiah.
Alhasil, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot berada pada level Rp16.824/US$. Posisi ini merupakan pelemahan rupiah paling sejak delapan bulan terakhir, dan hampir menyentuh posisi terendahnya pada akhir April 2025.
Volatilitas rupiah dengan kecenderungan melemah menandakan tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek stabilitas makro ekonomi Indonesia, ditambah adanya kondisi geopolitik yang semakin memanas.
Padahal, di tengah tren penguatan dolar AS, nilai tukar mata uang Asia cenderung beragam. Memang mayoritas mata uang Asia siang ini berada di zona merah dipimpin oleh won Korea Selatan melemah 0,27%, yen Jepang 0,25%, dolar Taiwan 0,2%, dolar Singapura 0,09%, dan ringgit Malaysia 0,06%.
Rupiah tidak bisa membalikkan arah pergerakan karena terbebani sentimen domestik. Defisit APBN yang mendekati ambang batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) semakin menimbukan kekhawatiran mengenai kebutuhan pembiayaan pemerintah ke depan, terutama di saat likuiditas global mengetat dan selera risiko investor asing belum pulih.































