Mengenal Madu Termahal di Dunia
Rosadi Jamani
09 January 2026 06:24

|
Penulis: Rosadi Jamani Penulis adalah dosen Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat dan Ketua Satupena Kalimantan Barat. |
Madu selalu punya cara menampar kesadaran manusia tentang betapa kecilnya kita di hadapan alam. Bahkan ada anekdot klasik yang sudah jadi semacam uji laboratorium rumah tangga. Jika ingin mengetahui madu itu asli atau palsu, bawa madu ke rumah. Bila istri langsung marah tanpa sebab, itu tandanya madu tersebut asli.
Dalam dunia madu, ada satu spesies cairan emas yang begitu mahal hingga layak disebut “quantum honey” bukan karena diproduksi dengan teknologi canggih tetapi karena harganya melompat seperti partikel yang tak bisa ditebak. Itulah Elvish Honey dari Turki. Madu dipanen dari gua sedalam 1,800 meter di lembah Saricayir. Harga per kilogramnya mencapai US$5,000 atau sekitar Rp78 juta.
Baca Juga
Turki juga punya Centauri Honey, dipanen dari ketinggian 2,500 meter. Dengan harga US$1,000–1,200 per kilogram, lebahnya seperti drone biologis yang bekerja di altitud ekstrem, melawan tekanan udara dan gravitasi hanya untuk menghasilkan cairan yang dianggap langka. Dari Skotlandia hadir Heather Honey seharga US$ 200–300 per kilogram, teksturnya seperti gel silikon alami, lembut, stabil, dan eksentrik. Dari Selandia Baru ada Manuka Honey, US$100–500 per kilogram, terkenal dengan efek antibakteri yang bekerja seperti antivirus alami versi premium. Dari Yaman, Yemeni Sidr Honey dihargai US$ 250–500 karena dihasilkan dari pohon Sidr kuno—seolah kita mencicipi data biologis berusia ribuan tahun yang tersimpan rapi dalam setiap tetes.
Mengapa madu-madu ini begitu mahal? Jawabannya mirip prinsip teknologi tinggi, semakin ekstrem prosesnya, semakin tinggi nilainya. Elvish Honey dipanen di gua sedalam lantai basement gedung pencakar langit imajiner. Centauri Honey diambil dari tebing setinggi menara telekomunikasi raksasa. Produksinya terbatas, seperti limited edition hardware: kadang hanya sekali setahun. Kandungan nutrisi, enzim, dan antioksidannya bekerja seperti sistem nano-biologis yang sulit direplikasi. Permintaan global pun meledak, terutama dari dunia kesehatan yang seolah melihat madu ini sebagai modul upgrade tubuh versi organik.
Namun ketika kita menoleh ke Indonesia, data yang muncul justru seperti hasil sensor yang membingungkan. Negara tropis kaya flora ini malah kebanjiran madu impor. Padahal kita punya madu hutan, madu randu, madu kelulut, dan berbagai jenis lain yang lahir dari ekosistem kompleks seperti supercomputer zalami yang terus bekerja tanpa listrik. Data BPS menunjukkan produksi madu nasional sepanjang 2024 masih berfluktuasi, mirip grafik server yang naik turun karena beban tak stabil. Konsumsi domestik mencapai 7,000 hingga 15,000 ton per tahun menurut API. Tetapi produksi lokal belum cukup, sehingga impor dari China dan Malaysia membanjiri pasar. Packaging dan harga membuat konsumen tertarik meski kualitasnya belum tentu unggul.
Studi UGM mengungkap, sebagian besar konsumen membeli madu untuk kesehatan tetapi belum mengerti kualitas dan keaslian. Tanpa sertifikasi nasional yang kuat, pasar madu lokal seperti software bagus tanpa label resmi, disalahpahami: kurang dipercaya dan kalah saing di etalase digital.
Pada akhirnya, mengenal madu termahal di dunia bukan sekadar mengetahui harganya. Ini tentang menghargai proses. Lebah terbang hingga lima kilometer hanya untuk satu tetes nektar. Ia bekerja seperti robot otonom yang tak pernah protes, tak pernah error, dan tak pernah meminta update. Kita, manusia yang punya teknologi, kecerdasan, dan perangkat canggih, justru sering ingin hasil instan tanpa proses.
Madu mengajarkan sains yang sederhana namun canggih. Manis sejati lahir dari perjalanan panjang, konsisten dan tekun. Tidak ada algoritma yang bisa mempercepatnya. Tidak ada shortcut. Yang ada hanyalah kerja, ketekunan, dan kejujuran, tiga hal yang membuat harganya mungkin lebih tinggi dari Elvish Honey itu sendiri.
DISCLAIMER
Opini yang disampaikan dalam artikel ini sepenuhnya merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap, kebijakan, atau pandangan resmi dari Bloomberg Technoz. Kami tidak bertanggung jawab atas keakuratan, kelengkapan, atau validitas informasi yang disajikan dalam opini ini.
Setiap pembaca diharapkan untuk melakukan verifikasi dan mempertimbangkan berbagai sumber sebelum mengambil kesimpulan atau tindakan berdasarkan opini yang disampaikan. Jika terdapat keberatan atau klarifikasi terkait isi opini ini, silakan hubungi redaksi melalui contact@bloombergtechnoz.com
Tentang Z-ZoneZ-Zone merupakan kanal opini di Bloomberg Technoz yang menghadirkan beragam pandangan dari publik, akademisi, praktisi, hingga profesional lintas sektor. Di sini, penulis bisa berbagi ide, analisis, dan perspektif unikmu terhadap isu ekonomi, bisnis, teknologi, dan sosial. Punya opini menarik? |
(roj)





















