Tekanan jual terasa di hampir semua tenor, baik pendek, menengah, dan panjang. Sebagian tenor pendek yang mencatat penurunan yield bisa jadi mencerminkan reposisi portofolio jangka pendek juga kebutuhan likuiditas para investor.
Akan tetapi, tak bisa dipungkiri tekanan jual yang hampir merata di semua tenor ini juga mengindikasikan adanya sentimen risk-off yang terjadi.
Sentimen ini muncul dari ketidakpastian global seiring meningkatnya eksalasi konflik antara Venezuela dan AS setelah penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (3/1/2026).
Bagi pasar keuangan domestik, kondisi ini menegaskan kembali sensitivitas Indonesia terhadap guncangan eksternal. Tingginya porsi kepemilikan asing di pasar obligasi dan kebutuhan pembiayaan fiskal yang berkelanjutan, membuat pasar surat berharga relatif rentan terhadap perubahan arus modal di pasar global.
Ketegangan yang terjadi antara Venezuela yang memiliki hubungan bilateral cukup erat dengan China versus AS ini bisa meningkatkan kekhawatiran akan konflik lanjutan, perang proksi, hingga kekhawatiran terhadap pasokan energi. Hal ini kemudian akan mendorong investor global mengurangi eksposurnya di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Rupiah berpeluang tertekan di rentang Rp16.750-16.850/US$. Yield 10Y SUN fluktuatif di rentang 6.00-6.10% hari ini," kata tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya pagi tadi (5/1/2026).
Dengan gejolak yang terjadi di awal tahun ini, stabilitas pasar keuangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh faktor dalam negeri, tapi juga dinamika geopolitik yang semakin lama semakin kompleks.
Bagi negara-negara di kawasan Asia, seperti Indonesia, tantangannya bukan hanya menjaga fundamental domestik tetap solid, tapi juga bagaimana mengelola volatilitas eksternal yang semakin sering muncul akibat dinamika geopolitik di luar kendali kawasan.
(bbn/dhf)




























