Hati-Hati, Rupiah Offshore Kembali Masuk Kisaran Rp16.900
Tim Riset Bloomberg Technoz
19 February 2026 08:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah kembali menghadapi tekanan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dan mengalami penyusutan cukup banyak dalam penutupan perdagangan kemarin.
Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar offshore hari ini (19/2/2026) memang dibuka stagnan lalu menguat tipis 0,02% ke posisi Rp16.928/US$. Namun, saat penutupan perdagangan kemarin rupiah susut sebanyak 0,40% menjadi Rp16.932/US$ dari angka pembukaannya di level Rp16.864/US$.
Tekanan ini datang dari menguatnya indeks dolar AS sebesar 0,54% menjadi 97,7 dari posisi sebelumnya 97,1. Ekonomi AS yang mengalami pertumbuhan PDB cukup solid sebesar 2,7% pada 2025 dan adanya daya tahan belanja konsumen, serta lonjakan investasi berbasis kecerdasan buatan yang mencatatkan kinerja pasar saham AS, membuat greenback kembali perkasa.
Kondisi ekonomi tersebut, meski sebenarnya pasar tenaga kerja AS masih melemah, sudah cukup membuat persepsi bahwa AS masih jadi pusat pertumbuhan global, yang tentu pada akhirnya menopang kekuatan dolar AS itu sendiri.
Meski terdapat risiko perlambatan ekonomi AS ke depan akibat pasar tenaga kerja yang stagnan, untuk saat ini narasi “jobless boom” justru memperkuat dolar karena produktivitas meningkat berkat AI, tanpa tekanan upah yang berarti karena justru banyak tenaga kerja AS yang di PHK lantaran AI itu sendiri.




























