Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan permintaan dari China mendongkrak harga kedelai. Kemarin, harga minyak kedelai di bursa Dalian (China) naik 0,6%. Sementara di Chicago Board of Trade (AS), harga melambung 1,37%.

Saat harga minyak nabati pesaing lebih mahal, maka keuntungan untuk beralih ke CPO menjadi bertambah. Sebab, kedua komoditas ini bisa saling menggantikan dan bersaing di pasar minyak nabati dunia.

Perkembangan nilai tukar ringgit juga menjadi sentimen positif bagi harga CPO. Kemarin, mata uang Negeri Harimau Malaya melemah 0,29% terhadap dolar AS.

CPO adalah aset yang dibanderol dalam ringgit. Saat ringgit terdepresiasi, maka kontrak CPO menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya.

Ilustrasi Kebun Kelapa Sawit (bpdp.or.id)

Analisis Teknikal

Lalu bagaimana perkiraan harga CPO untuk hari ini, Rabu (19/11/2025)? Apakah bisa terjadi kenaikan lima hari berturut-turut?

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO masih terjebak di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 38. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.

Sementara indikator Stochastic RSI ada di 51. Menghuni area beli (long), tetapi tidak terlalu kuat. Cenderung netral.

Untuk perdagangan hari ini, harga CPO berpotensi turun atau melemah. Maklum, kenaikannya sudah lumayan tinggi dan bisa jadi membuat investor bernafsu untuk mencairkan keuntungan.

Target support terdekat ada di rentang MYR 4.140-4.135/ton. Andai harga menembus pivot point MYR 4.119/ton, maka ada risiko jebol hingga MYR 4.107-4.061/ton.

Namun kalau masih kuat menanjak, maka harga CPO berpotensi menguji resisten MYR 4.277/ton yang menjadi Moving Average (MA) 20. Penembusan di titik ini berpeluang mengangkat harga ke MYR 4.383/ton.

(aji)

No more pages