Hanya yen Jepang yang mampu menguat di hadapan dolar AS. Itu pun sangat terbatas, hanya terapresiasi 0,04%.
Laju penguatan dolar AS sulit tertahan. Kemarin, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) ditutup menguat 0,24% ke 99,533. Ini menjadi yang tertinggi dalam sekira seminggu terakhir.
Pagi ini, indeks tersebut masih menghijau. Pada pukul 09:10 WIB, Dollar Index naik 0,02% ke 99,555.
Penguatan dolar AS tidak lepas dari ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve. Pasar makin tidak yakin bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuan dalam rapat Desember.
Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% adalah 42,9%. Sementara kemungkinan suku bunga acuan bertahan di 3,75-4% lebih tinggi yaitu 57,1%.
“Sejumlah pejabat The Fed bersuara tentang ancaman inflasi. Kekosongan informasi membuat pembacaan terhadap arah ekonomi menjadi lebih sulit,” tegas Dilin Wu, Strategist di Pepperstone Group Ltd, dalam catatannya.
Saat suku bunga mungkin tidak turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) menjadi atraktif. Ini kemudian membuat dolar AS di atas angin dan melibas mata uang Asia, termasuk rupiah.
(aji)




























